Selasa, 13 November 2018

Membunuh Jentik Nyamuk Aedes aegypti

Filled under:


Nyamuk Aedes aegypti
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh vektor yaitu nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti merupakan spesies nyamuk tropis dan subtropis yang ditemukan di bumi, biasanya antara garis lintang 35°LU dan 35°LS, kira-kira berhubungan dengan musim dingin isoterm 10°C. Distribusi Aedes aegypti juga dibatasi oleh ketinggian. Aedes aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus, karena nyamuk ini sangat antropofilik dan hidup dekat dengan manusia dan sering hidup di dalam rumah. Faktor penyulit pemusnahan vektor adalah bahwa telur-telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam waktu lama terhadap desikasi (pengawetan dengan pengeringan), kadang selama lebih dari satu tahun (WHO, 1997 dalam Anonim, tanpa tahun). Klasifikasi nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut: Klasifikasi nyamuk Aedes aegypti menurut Boror (1992) dalam Buku Pengenalan Pembelajaran Serangga Edisi Keenam adalah sebagai berikut.

Filum               : Arthropoda
Kelas               : Insecta
Anak Kelas     : Pterygota
Ordo                : Diptera
Famili              : Culicidae
Genus              : Aedes
Spesies            : Aedes aegypti (Boror, 1992).

Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan, kaki dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu : Telur – Jentik – Kepompong – Nyamuk. Stadium telur, jentik dan kepompong hidup di dalam air. Telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran    + 0,80 mm. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik biasanya berlangsung 6-8 hari, stadium pupa (kepompong) berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk dewasa mencapai 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan. Nyamuk dewasa inilah yang merupakan vektor atau pembawa virus dengue yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Pemberantasan Jentik Nyamuk untuk Mencegah Penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pemberantasan jentik nyamuk untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah di Indonesia umumnya dilakukan dengan cara fogging atau pengasapan insektisida dan penggunaan Abate atau abatisasi. Menurut Lawuyan (2012), Fogging atau pengasapan dengan insektisida untuk membasmi nyamuk dewasa Aedes aegypti, sebagai pembawa virus dengue penyebab penyakit DBD, dilakukan dengan menggunakan mesin fog (mesin pembuat kabut asap) yang dapat dipasang pada pesawat terbang, kapal ataupun kendaraan bermotor lainnya, dan terdapat pula jenis mesin fog yang dapat dijinjing (thermal fog). Di Indonesia, yang digunakan adalah mesin fog yang diangkut dengan mobil (dikenal dengan mesin ULV) dan mesin fog yang dijinjing. Pengasapan insektisida dengan mesin ULV dilaksanakan dengan cara menyemprotkan insektisida ke lahan atau bangunan yang dilewati di sepanjang jalan yang dapat dilalui.

Dengan daya semprot fogging yang kuat, diharapkan nyamuk yang berada di halaman maupun di dalam rumah terpapar dengan insektisida dan dapat dibasmi ("knock down effect"). Untuk mencapai hasil yang optimal, maka sepanjang jalan yang dilalui harus dipastikan tidak ada penghalang antara mesin dan lahan atau bangunan yang akan dilakukan pengasapan tersebut. Namun dalam praktiknya, pengasapan insektisida telah mengalami kegagalan yang disebabkan oleh teknik pelaksanaan dan kondisi lapangan yang tidak menunjang, seperti arah angin yang menghalangi penyebaran asap, struktur pintu atau jendela yang menghalangi masuknya asap insektisida, struktur bangunan yang terdiri dari banyak sekat sehingga menghalangi menyebarnya aliran asap, mesin ULV yang tidak prima, operator yang tidak terampil, bahkan sampai adanya anggapan bahwa nyamuk telah menjadi kebal terhadap insektisida. Selain itu ada kemungkinan pula nyamuk akan bersembunyi di kegelapan disertai dengan kemampuannya terbang horizontal dan vertikal serta kemungkinan nyamuk tersebut terbawa oleh alat transportasi ke tempat lain.

Selain dengan fogging, pencegahan demam berdarah juga dapat dilakukan dengan mencampurkan Abate dengan air di dalam bak mandi atau tempat-tempat penyimpanan air.  Abate merupakan merek dagang dari  Temefos suatu insektisida yang termasuk golongan Organophosfat  (OP).  Suatu golongan insektisida yang  dalam susunan kimianya  mengandung fosfor. Cara kerja OP  dengan menghambat  enzin kolinesterase yang terdapat dalam  sistem saraf.  Enzim ini menjadi  terfosforilasi  (keracunan fosfor) ketika terikat dengan OP dan ikatannya bersifat tetap (reversible). Penghambatan ini menyebabkan terkumpulnya  asitelkolin pada  sinaps (bagian sel saraf) dan mengakibatkan kejang otot dan akhirnya menyebabkan kelumpuhan serta kematian pada jentik maupun serangga dewasa. Selama ini pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan masih menjadikan abate sebagai salah satu strategi program pengendalian  demam berdarah yang dikenal dengan program Abatisasi.

Menurut Hasan (2012), Kementerian Kesehatan sudah tidak menganjurkan lagi penggunaan abate untuk pengendalian nyamuk aedes penyebab demam berdarah berkenaan dengan adanya himbauan dari  Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghentikan penggunaan abate dalam jangka waktu panjang karena  abate dapat  menjadi penyebab kanker (karsinogenik). Menurut Helen Murphy FNP-MHS dari Pacific Northwest Agriculture Safety & Health Center University of Washington dalam Hasan (2012), insektisida Organophospat  yang merupakan bahan baku pembuat abate dapat menyebabkan kanker pada sejumlah bagian tubuh. Seperti kanker otak, kanker paru, pankreas, leukimia, Kanker prostat, Kanker ovarium dan Kanker Payudara.  Juga menyebabkan anak lebih rentan tiga kali menderita kanker dibandingkan orang dewasa. Selain kanker dapat juga menyebakan keracunan pada sejumlah organ tubuh. Seperti sakit  kepala, lelah dan tremor merupakan gejala keracunan  otak. Sedangkan  sesak napas, batuk dan nyeri pada dada merupakan gejala keracunan pada paru-paru. Sementara keracunan pada saluran pencernaan ditandai dengan diare, muntah dan kram pada perut.


Referensi
Boror, D. J., Triplehorn, C. A., & Johnson, N. F. (1992). Pengenalan Pelajaran Serangga edisi ke-6. Terjemahan S. Partosoejono, M. Sc. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.

Lawuyan, Stefanus, Dr. 2012. Pembasmian Penyakit Demam Berdarah Dengue. (Online). http://puskesmaspalaran.tripod.com/stefdbd.pdf. Diakses tanggal 20 Agustus 2012. 

Hasan, Muhammad. 2012. Akhir Era Abatisasi. (Online). http://makassar.tribunnews.com/mobile/index.php/2012/05/24/akhir-era-abatisasi. Diakses tanggal 20 Agustus 2012.