Selasa, 05 Oktober 2021

Hubungannya Kebisingan dengan Kemampuan Kognitif

Filled under:


Kebisingan diduga dapat mempengaruhi kondisi kognitif seseorang bahkan dapat menyebabkan stress. Shept (2010) menunjukkan bahwa sekitar 26% karyawan industri listrik di Canada, ditemukan terkena tingkat kebisingan 85 dBA. Respon subjektif menunjukkan sekitar 26% karyawan insustri listrik di Canada, merasa kebisingan mengganggu dalam pekerjaan mereka dan 49% karyawan industry listrik Canada, merasa bahwa kebisingan menjadi pemicu stress. Wijono (2010) berpendapat bahwa lingkungan yang bising sebagai pembagkit stress yang membahayakan.

Kebisingan yang dapat berpengaruh diantaranya adalah kebisingan akibat pesawat dan keramaian lalu lintas. Populasi yang lebih mudah terkena dampak dari kebisingan ini adalah anak-anak dan orang tua (Stansfeld dkk, 2005; Stansfeld dkk, 2010). Kebisingan dari pesawat dan lalu lintas diduga dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam membaca dan mengingat sesuatu. Kemampuan kognitif yang dipengaruhi oleh kebisingan cenderung berupa kemampuan yang melibatkan bahasa dan kemampuan pemrosesan sentral seperti membaca dan mengingat. Beberapa teori dianggap merupakan mekanisme dari kebisingan dalam mempengaruhi kemampuan kognitif diantaranya adalah berkurangnya konsentrasi, meningkatnya kesadaran, serta noise annoyance (Clark dkk, 2012;Tzivian dkk, 2016). Selain kemampuan memori, kebisingan juga diduga dapat mempengaruhi kemampuan aritmatik seseorang akibat adanya konflik dalam menyelesaikan tugas yang diberikan kepada otak ketika adanya suara kebisingan pada latar (Reynold dkk, 2014). Kebisingan diduga dapat mengganggu proses kognitif karena perhatian yang ditarik ke suara serta mempengaruhi proses itu sendiri. Studi Clark dan Sorquist di tahun yang sama yang mempelajari paparan kebisingan terhadap kognitif seseorang dalam 3 tahun menunjukkan bahwa sequen suara “k l m v q r c” lebih menganggu proses mengingat dibandingkan dengan sekuen “c c c c c c “ dimana temuan ini dinamakan efek changing-state. Selain itu, tambahan bunyi “m” pada sequen “c c c m c c c” juga dapat mengganggu proses mengingat dan fenomena ini dinamakan efek deviasi. Orang dengan kapasitas memori kerja yang tinggi secara umum lebih tidak terpengaruh terhadap distraksi auditori terutama pada efek deviasi, tetapi mereka masih merespons terhadap efek changing-state (Clark & Sorqvist, 2012).

Paparan kebisingan berkelanjutan dengan taraf intensitas 85-90dBA dapat menyebabkan gangguan tidur, penurunan kognitif, penurunan fungsi psikologis, peningkatan ambang batas suara serta hilangnya pendengaran. Paparan akut dari kebisingan akan menyebabkan respons fisiologis jangka pendek seperti peningkatan denyut jantung, tekanan darah dan pengeluaran beberapa hormon seperti kortisol yang meningkat pada paparan suara 65dBA. Efek akut kebisingan seperti peningkatan laju jantung dan kesadaran akan menurunkan kualitas tidur yang jika berlangsung kronik akan menyebabkan kelelahan, mood yang buruk,serta terganggunya performa kognitif. Eksposur kebisingan yang tinggi (co: kebisingan pesawat) memiliki asosiasi dengan defisit memori jangka panjang dan kemampuan membaca komprehensif akan tetapi tidak ada asosiasi yang signifikan pada paparan kebisingan jalan raya dengan performa kognitif (Clark & Barts, 2007; Elmenherost dkk, 2010). Sebuah studi yang telah lama dilakukan menunjukkan bahwa efek yang paling konsisten pada eksposur kebisingan pesawat yang ditemukan pada anak dan dewasa muda adalah gangguan kognitif terutama pada tugas yang berhubungan dengan proses sentral dan komperhensi bahasa seperti membaca, konsentrasi, pemecahan masalah dan daya ingat (Haines dkk, 2001).

Diduga bukan hanya kebisingan lingkungan yang dapat mengganggu kognitif, tetapi latar musik juga dianggap sebagai kebisingan yang dapat mengganggu kognitif karena meningkatkan kesadaran dan memecahkan konsentrasi terutama pada orang-orang yang memiliki tipe kepribadian introverts. Dikatakan bahwa ingatan seseorang menjadi lebih rendah ketika ada musik dimainkan dibandingkan pada keadaan tenang tanpa suara. Latar musik memiliki asosiasi dalam menurunkan hasil uji Raven untuk melihat kemampuan abstract reasoning sebesar 0.8 kali dibandingkan dengan kondisi tanpa suara (p<0.001), menurunkan kemampuan uji Wonderlik untuk menilai performa kerja perorangan sebesar 5.87 kali (p<0.001) serta menurunkan 0.4 kali hasil uji verbal reasoning dibandingkan dengan kondisi hening (p<0.01) (Dobs dkk, 2011).  

Berpengaruhnya kebisingan terhadap kognitif masih merupakan suatu hal yang simpang siur dimana beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya menunjukkan hasil yang pro-kontra. Studi yang dilakukan pada tahun 2001 silam menunjukkan bahwa paparan dari kebisingan pesawat memiliki hubungan signifikan dengan rasa terganggu (p<0.01) akan tetapi tidak memiliki efek yang berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan membaca komprehensif (p=0.09), daya ingat (p=0.07) serta tidak mempengaruhi motivasi belajar dari subjek (Haines dkk, 2001). Kemudian, dewasa ini, hasil studi semakin menunjukkan hubungan antara paparan kebisingan dengan kognitif. Hal ini dapat dilihat dari  studi dari Clark yang dilakukan pada tahun 2012 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara eksposur kebisingan pesawat dengan kemampuan sesorang dalam mengenali memori (p=0.01) dan merecall konsep (p<0.01), sedangkan asosiasi dengan membaca komprehensif (p=0.06) dan recall informasi (p=0.055) berada pada batas signifikan, tetapi tidak ada hubungan yang signifikan antara kebisingan di jalan raya dengan kemampuan kognisi seseorang (p>0.05) (Clark dkk, 2012). Studi dari Tzivian juga mendukung studi dari Clark, dikatakan bahwa paparan suara mempengaruhi kognitif secara keseluruhan, paparan kebisingan sedang sudah dapat mengganggu performa memori yang bergantung pada fungsi korteks prefontral dan pelepasan dopamin secara signifikan (Tzivinian dkk, 2016). Kebisingan lingkungan mempengaruhi performa secara negative baik pada kelompok dewasa muda maupun tua. Secara umum, peserta studi dari Dupuis di tahun 2016 menunjukkan penurunan skor yang signifikan pada tes kognitif yang dilaksanakan pada lingkungan yang berisik dibandingkan dengan yang tidak (p<0.001), akan tetapi dikatakan bahwa populasi dewasa muda lebih sulit terpengaruh dengan kebisingan dibandingkan dengan populasi yang lebih tua (Dupuis dkk, 2016). Akan tetapi studi pada 3 tahun sebelumnya justru mengatakan bahwa populasi yang lebih muda akan lebih mudah terpengaruh kemampuan kognitifnya oleh kebisingan dikarenakan penggunaan spectro-temporal dan partial untuk membedakan sinyal dan kebisingan lebih rendah dibandingkan populasi yang lebih tua. Hal ini akan nampak pada kemampuan memori jangka pendek yang sangat mudah terganggu oleh efek kebisingan. Performa mengingat kembali dipengaruhi oleh suara dengan fenomena changing state yang terdiri dari pembedaan persepsi objektif auditori yang beragam contohnya seperti kebisingan luas yang kontibu, atau repetisi dari suku kata tunggal yang berbeda. Penurunan performa ini terjadi pada 39% populasi yang lebih muda dan 11% populasi yang lebih tua (Klatte dkk, 2013).

Note:

Jika ingin menggunakan tulisan ini tolong di edit kalimatnya, karena sebagai bentuk penghargaan kepada penulis. Selain itu bikintugas juga menyediakan jasa pembuatan power point ujian, artikel jurnal, dan juga publikasi jurnal internasional