Sabtu, 09 Oktober 2021

Penyebab dan dampak Kekerasan atau Kejahatan Seksual Pada Anak

Filled under:


Kekerasan dan Kejahatan Seksual Pada Anak

Seiring dengan perkembangan teknologi kekerasan dan kejahatan pada anak semakin meningkat. Anak yang sering menjadi korban kekerasan dan kejahatan seksual harus mendapatkan perhatian yang khusus dari semua pihak karena anak merupakan generasi penerus bangsa. Dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Peradilan Anak mendefinisikan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Pasal 1 Ayat 2 tentang perlindungan anak “perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjami dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Ningsih & Sri, 2018).

Kekerasan Pada Anak

Menurut Mutiah (2015) kekerasan didefiniskan sebagai perilaku seseorang terhadap orang lain yang menyebabkan kerusakan fisik atau psikis. Kekerasan anak didefinisikan sebagai kelalaian tindakan/perbuatan orang tua dalam menjaga anaknya yang dapat mengakibatkan terganggu kesehatan fisik, emosional dan perkembangan anak (Risma et al, 2019). Kekerasan anak mencangkup penganiayaan fisik, emosi, kelalaian dan ekspoitasi seksual. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2016) mendefinisikan kekerasan anak merupakan bentuk ucapan, sikap, dan tidakan yang menimbulkan kesakitan, ganguan psikis, penelantaran ekonomi dan sosial terhadap anak. Dalam PP Pengganti Undang-Undang No 1 Tahun 2002 Kekerasan merupakan perbuatan penyalahgunaan kekuatan fisik dengan atau tanpa menggunakan sarana dengan melawan hukum dan menimbulkan bahaya badan, nyawa, dan kemerdekaan orang termasuk menjadikan orang pingsan atau tidak berdaya. Dapat disimpulkan bahwa kekerasan adalah tindakan yang dilakukan untuk menyakiti baik fisik dan psikis orang lain.

Kejahatan Seksual

Kejahatan seksual terhadap anak merupakan tindakan menyentuh, mencium organ seksual anak, tindakan seksual, atau pemerkosaan terhadap anak, memperlihatkan media/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainya (Agustin et al, 2018). Kategori perama kekerasan seksual pada yaitu penganiayaan yang meliputi interaksi noncoitus, petting, fondling, exhibitionism, dan voyeurism (Pertiwi, 2020). Kategori yang kedua pemerkosaan berupa oral atau hubungan dengan alat kelamin, masturbasi, stimulasi oral pada penis, dan stimulasi oral pada klirotis.  Kejahatan seksual pada anak adalah keterlibatan anak terhadap aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batasan umur tertentu dan ditetapkan oleh hukum yang bersangkutan (Rahmi, 2019). Dapat disimpulkan bahwa kejahatan seksual merupakan tidakan yang berujung pada perilaku seksual menyimpang misalnya pemerkosaan, pornografi, dan kegiatan seksual lainnya.

PENYEBAB KEKERASAN DAN KEJAHATAN SEKSUAL PADA ANAK

Kekerasan dan kejahatan seksual bisa timbuul kapan saja dan dimana saja selama pelaku memiliki kesempatan melakukan niatnya. Kekerasan pada anak bahkan ada yang dilakukan oleh lingkungan keluarga anak sendiri tetapi juda di sekitar mereka. Penyebab kekerasan dan kejahatan seksual pada anak dibagi menjadi factor internal dan eksternal (Lewoleba & Fahrozi, 2020).

Faktor Internal Pelaku

Faktor internal merupakan faktor penyebab terjadinya kekerasan dan kejahatan seksual yang terdapat pada diri indvidu. Hal ini dapat ditinjau dari faktor kejiwaan, yaitu kondisi kejiwaan yang tidak normal pada diri seseorang mendorong peaku untuk melakukan tindakan kekerasan dan kejahatan seksual. Pengaruh alcohol juga memberikan pengaruh besar terhadap kekerasan dan kejahatan seksual pada pelaku, karena orang yang mabuk biasanya lebih berani melakukan tindakan brutal yang disebbakan oleh jiwanya yang tidak stabil. Keinginan seksual yang tidak terpenuhi dan tidak bisa dikendalikan juga dapat mendorong manusia untuk melakukan kejahatan seksual. Karena pada dasarnya manusia dibekali oleh nafsu yang besar.

Faktor eksternal pelaku

Faktor eksternal dapat ditinjau dari segi sosial dan budaya yaitu semakin banyaknya kasus kekerasan dan kejahatan seksual pada anak yang diberitakan di media. Perkembangan teknologi yang semakin cepat memudahkan manusia mengakses konten yang dapat menimbulkan keinginan melakukan tidakan kekerasan dan kejahatan seksual. Semakin merebaknya budaya pacaran anak di bawah umur sehingga memungkinkan terjadi tidak asusila terhadap anak di bawah umur. 

DAMPAK KEKERASAN DAN KEJAHATAN SEKSUAL PADA ANAK

Dampak kekerasan dan kejahatan seksual tidak hanya melukai fisik saja tetapi psikologis pada anak. Kekerasan dan kejahatan seksual akan mengakibatkan trauma yang dalam kepada korban sehingga dapat mempengaruhi perilakunya. Menurut (Zahirah et al, 2019) kejahatan seksual pada anak dapat mengakibatkan gangunan psikologis seperti pasca trauma stress disorder, kecemasan, penyakit jiwa lain termasuk gangguan kepribadian dan ganguan identitas disosiatif, dan kecendurungan untuk reviktimisasi pada masa dewasa dan cedera fisik pada anak. Menurut (Tursilarini, 2020) anak yang mengalami kekerasan seksual akan membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun untuk terbuka pada orang lain. Menurut (Zahirah et al, 2019) anak yang mengalami kekerasan seksual akan sulit dihilangkan jika tidak ditangani oleh ahli. Anak akan mendapat mimpi buruk, ketakutan yang berlebihan dan konsentrasi menurun sehingga akan berdampak pada kesehatan.

Note:

Pastikan melakukan editing kalimatnya jika tidak ingin terkena plagiasi. Bikintugas juga melayani saja publikasi jurnal internasional, pembuatan ppt ujian skripsi - disertasi, pembuatan artikel dll.


Daftar Pustaka

Ningsih, E. S. B., & Sri, H. (2018). Kekerasan Seksual Pada Anak di Kabupaten Karawang. Jurnal Bidan “Midwife Journal4(02).

Agustin, M., Saripah, I., & Gustiana, A. D. (2018). Analisis tipikal kekerasan pada anak dan faktor yang melatarbelakanginya. Jurnal Ilmiah Visi13(1), 1-10.

Risma, D., Solfiah, Y., & Satria, D. (2019). Pengembangan Media Edukasi Perlindungan Anak Untuk Mengurangi Kekerasan Pada Anak. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini4(1), 448-462.
Pertiwi, R. (2020). Hak Restitusi Anak Korban Kejahatan Seksual. Pancasila and Law Review1(1), 35-44.
Rahmi, A. (2019). Pemenuhan Restitusi Dan Kompensasi Sebagai Bentuk Perlindungan Bagi Korban Kejahatan Seksual Dalam Sistem Hukum Di Indonesia. DE LEGA LATA: Jurnal Ilmu Hukum4(2), 140-159.
Lewoleba, K. K., & Fahrozi, M. H. (2020). Studi Faktor-Faktor Terjadinya Tindak Kekerasan Seksual Pada Anak-Anak. Esensi Hukum2(1), 27-48.
Zahirah, U., Nurwati, N., & Krisnani, H. (2019). Dampak dan penanganan kekerasan seksual anak di keluarga. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat6(1), 10.
Tursilarini, T. Y. (2020). Dampak Kekerasan Seksual Di Ranah Domestik Terhadap Keberlangsungan Hidup Anak. Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial41(1), 77-92.