Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Oktober 2021

Mengenal Istilah Ergonomi dan Tujuannya

Filled under:


Ergonomi merupakan gabungan dari beberapa ilmu lainnya yang mencakup sistem manusia, mesin, dan lingkungan yang saling berinteraksi (International Ergonomic Association), selain itu dalam ergonomi juga mempelajari tentang desain alat kerja dan lingkungan kerja yang sesuai dengan kapasitas dan keterbatasan manusia (Dewi, 2020). Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani. Menurut bahasa, ergonomi berasal dari kata ergon dan nomos. Ergon yang berarti kerja dan nomos yang berarti hukum atau aturan. Secara menyeluruh, ergonomi berati studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen, dan desain atau perancangan. Istilah ergonomi pertama kali dicetuskan pada tahun 1950 oleh sekelompok ahli medis, psikolog dan insinyur di United Kingdom untuk menjelaskan aplikasi multidisiplin ilmu yang dirancang untuk memecahkan masalah-masalah teknologi pada masa perang.

Ergonomi adalah ilmu kondisi tempat kerja, tuntutan pekerjaan dengan kemampuan pekerja (Putra & Waskito, 2020). Ergonomi mempertimbangkan kemampuan dan batas-batas pekerja saat mereka berinteraksi dengan peralatan, perlengkapan, cara bekerja, dan tugas di lingkungan pekerjaan. Setiap pekerja berbeda antara satu sama lain sehingga aturannya tidak sama untuk semua orang. Ergonomi mencakup semua aspek pekerjaan, dari fisik menekankan pada sendi, otot, saraf, tendon, dan tulang, dengan faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pendengaran, penglihatan dan kenyamanan umum dan kesehatan. Merancang tempat kerja dengan pemahaman individu yang berbeda dalam ukuran dan kondisi fisik adalah langkah pertama dalam mengurangi kemungkinan cedera (UCHDHS, 2009). Tarwaka 2010, menyimpulkan bahwa Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun beristirahat dengan segala kemampuan, kebolehan, dan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun mental sehingga dicapai suatu kualitas hidup secara keseluruhan yang lebih baik.

 

Tujuan Ergonomi

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah (Natosba & Jaji, 2016).

1.    Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental tenaga kerja melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.

2.    Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.

3.      Menciptakan keseimbangan antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.

Ergonomi juga dapat digunakan dalam menelaah sistem manusia dan poduksi yang kompleks. Dapat ditentukan tugas apa yang diberikan kepada tenaga kerja dan yang mana kepada mesin. Dibawah ini dikemukakan beberapa prinsip ergonomi sebagai pegangan, antara lain (Suma’mur, 1996)

1.    Sikap tubuh dalam pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat penunjuk, cara-cara harus melayani mesin (macam, gerak, arah dan kekuatan).

2.     Dari sudut otot sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang duduk yang baik adalah duduk tegak agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Maka dianjurkan memilih sikap duduk yang tegak yang diselingi istirahat dan sedikit membungkuk

3.   Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan duduk. Dalam hal tidak mungkin kepada pekerja diberi tempat dan kesempatan untuk duduk.

4.    Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37° kebawah. Arah penglihatan ini sesuai dengan sikap kepala yang istirahat (relaxed).

5.    Ruang gerak lengan ditentukan oleh punggung lengan seluruhnya dan lengan bawah. Pegangan-pegangan harus diletakkan, lebih-lebih bila sikap tubuh tidak berubah.

6.    Macam gerakan yang kontinu dan berirama lebih diutamakan, sedangkan gerakan yang sekonyong-konyong pada permulaan dan berhenti dengan paksa sangat melelahkan. Gerakan ke atas harus dihindarkan, berilah papan penyokong pada sikap lengan yang melelahkan. Hindarkan getaran-getaran kuat pada kaki dan lengan.

7.    Pembebanan sebaiknya dipilih yang optimum, yaitu beban yang dapat dikerjakan dengan pengerahan tenaga paling efisien. Beban fisik maksimum telah ditentukan oleh ILO sebesar 50kg.Cara mengangkat dan menolak hendaknya memperhatikan hukum-hukum ilmu gaya dan dihindarkan penggunaan tenaga yang tidak perlu. Beban hendaknya menekan langsung pada pinggul yang mendukungnya.

8.      Kemampuan seseorang bekerja seharinya adalah 8-10 jam, lebih dari itu efisien dan kualitas kerja sangat menurun.


Note:

        Jika ingin menggunakan tulisan ini pastikan untuk melakukan editing agar tidak terkena plagiasi, jangan asal kopas. Bikintugas melayani jasa pembuatan PPT ujian, editing skripsi - disertasi sesuai dengan pedoman masing-masing universitas.

 Daftar Pustaka

Dewi, N. F. (2020). Identifikasi risiko ergonomi dengan metode Nordic Body Map terhadap perawat Poli RS X. Jurnal Sosial Humaniora Terapan2(2).

Natosba, J., & Jaji, J. (2016). Pengaruh Posisi Ergonomis terhadap Kejadian Low Back Pain Pada Penenun Songket di Kampung BNI 46. Jurnal Keperawatan Sriwijaya3(2), 8-16.

Putra, E. S., & Waskito, M. A. (2020). Konsep ergonomi kultural nusantara dalam pendidikan dasar Desain Produk ITENAS. Productum: Jurnal Desain Produk (Pengetahuan dan Perancangan Produk)3(8), 291-298.

Posted By | Admin Bikintugas Oktober 09, 2021

Mengenal Baruan Pemasaran dan Segmentasinya

Filled under:

 


Baruan Pemasaran

Menurut  (Lee, & Kotler, 2019) baruan pemasaran (marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menurus mencapai tujuan pemasaran dipasar.  Baruan pemasaran tersebut dibagi menjadi 4P, yaitu :

1.   Product/Produk

Produk merupakan bentuk penawaran organisasi jasa yang ditujukan untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemuasan kebutuhan dan keinginan pelanggan.

2.   Price/Harga

Harga menunjukan harga yang ditetapkan untuk suatu produk tertentu sebagai dasar penawaran kepada calon pembeli dan biasanya penetapan harga dipengarui oleh banyak faktor, diantaranya faktor biaya yang berhubungan dengan operasional hotel.

3.   Place/Tempat

Tempat adalah masalah pendistribusian produk melalui perantara dimana konsumen dapat membeli produk yang ditawarkan, oleh sebab itu suatu hotel menentukan sebagai perantara untuk menjual kamar–kamar, dan fasilitas lainnya melalui travel agent,biro penjalanan wisata, karena dalam pariwisata, perusahaan–perusahaan ini berfungsi sebagai perantara (middle man) antara wisatawan dengan industri pariwisata.

4.   Promotion/Promosi

Promosi merupakan bentuk komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan informasi kepada calon pelanggan atau konsumen, biasaya promosi disini dilakukan melalui media cetak, elektronik atau melalui kegiatan personal, contact advertising, sales promotion, publicty dan exhibition

 

Menurut Sunarsi (2020) selain yang dijelaskan oleh kotler, pemasaran terdiri dari 3 (tiga) P dan 1 (satu) C, yaitu :

1.    People/Orang

Orang  adalah semua pelaku yang memainkan peranan dalam menyajikan jasa, sehingga dapat mempengaruhi persepsi pelanggan.

2.    Process/Proses

Proses menunjukan proses penjualan yang dilakukan oleh perusahaan kepada tamu untuk kemudahan pelayanan dan kepuasan tamu, biasanya penjualan kamar dilakukan dengan walk-in guest atau guest compliment.

3.    Physical Evident/Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik menjukan bentuk fisik yang diberikan perusahaan kepada para tamu untuk kenyamanan, bentuk fisik yang dimaksud adalah dalam bentuk bangunan hotel beserta sarana dan prasaran yang bermanfaat bagi tamu.

4.    Customer Service

Customer Service adalah tempat dimana tamu dapat menyampaikan kristik dan saran keluhan guna meningkat perfomance hotel khususnya dalam bidang pelayanan, sehingga hotel dapat menjaga keunggulan produk dan jasa yang ditawarkan.

 

Pengertian Segmentasi Pasar

Segementasi pasar adalah suatu usaha untuk meningkatkan ketetapan peningkatan pemasaran perusahaan (Kotler & Armstrong, 2010). Pembagian segmen pasar tersebut dibedakan berdasarkan 4 (empat) kriteria, yaitu :

1.    Segmentasi Geografis

Segmentasi ini dapat dikelompokan menjadi bebrapa segmen (internasional, rasioanal, lokal dalam dan luar kota). Memusatkan pemasaran pada suatu atau beberapa daerah geogrfis tertentu sering memberikan manfaat tersendiri bagi jenis usaha bisnis, sehingga perusahaan dalam memutuskan untuk beroperasi pada satu wilayah geografis atau dalam seluruh wilayah geografis dengan memberikan variasi lokal diantaranya.

a.    Wilayah

Wilayah merupakan segmen yang bisa membantu perusahaan untuk mementukan pasar sasaran wilayah yang tepat bagi perusahaan.

b.    Kepadatan

Kepadatan dapat disegmentasi menjadi kelompok perhotelan pinggiran kota dan pedesaann.

c.     Iklim

Iklim adalah satu segmen yang penting untuk diketahui perusahaan karena merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan segmentasi pasar

2.    Segmentasi Demografis

Segmentasi berdasarkan variabel–variabel demografis merupakan dasar yang paling populer dan saling sering digunakandalam membedakan pelanggan karena keinginan preferensi, dan tingkat pemakaian konsumen sering berhubungan dengan variabel–variabel demografis dan varibel–variabel ini lebih mudah diukur dibanding variabel–variabel lainnya.

a.    Usia

Keinginan dan kemampuan konsumen sejalan dengan usia dalam menerapkan segmen usia dan tahap siklus hidup dapat membantu suatu perusahaan dalam menentukan pasar.

b.    Jenis kelamin

Segementasi menurut jenis kelamin merupakan suatu hal yang banyak diterapkan banyak perusahaan.

c.     Penghasilan

Penghasilan merupakan salah bentuk segmentasi pasar yang digolongkan oleh perusahaan dengan beberapa segmen, sebagai contoh masyarakat yang berpenghasilan rendah, mengenah dan tinggi.

d.    Pekerjaan

Perusahaan juga dapat menggolongkan pasar dalam segmen pasar yaitu pegawai negeri, pegawai swasta dan lain–lain.

e.    Jumlah Keluarga

Jumlah keluarga merupakan segmen yang perlu diperhatikan oleh perusahaan karena besarnya keluarga akan merubah akomodasi yang ada.

f.      Pendidikan

Segmen ini juga mendapatkan perhatian perusahaan karena produk yang nantinya akan dihasilkan perusahaan.

g.    Siklus Keluarga

Siklus ini merupakan segmen yang perlu diperhatikan oleh perusahaan agar perusahaan dapat menentukan sasaran yang tepat biasanya perusahaan membedakan siklus keluarga atas status perkawinan.

3.    Segmentasi Psikografis

Dalam segmen ini dapat dibagi menjadi beberapa segmen yang berdasarkan gaya hidup dan kepribadian, yaitu :

a.    Gaya Hidup

Dalam segmen ini menunjukan bagaimana konsumen mempunyai gaya hidup yang sering dijadikan alasan atau motivasi untuk memilih fasilitas akomodasi yang sesuai dengan kedudukannya.

b.    Kepribadian

Kepribadian adalah segmen yang bisa menunjukan pola sikap individu kepada perusahaan dalam penentuan segmen pasar.

4.    Segmentasi Perilaku Konsumen

a.    Kejadian

Pembeli dapat dibedakan menurut kejadian saat mereka mengembangkan kebutuhan membeli suatu produk atau memakai suatu produk.

b.    Manfaat

Manfaat yang ini diperoleh konsumen dari produk yang dibeli berbeda-beda. Dalam kaitannya dengan harga dan manfaat dapat dibagi menjadi dua segmen yaitu: mereka yang menganggap harga bersaing sebagai kepuasan yang dicari dan mereka yang lebih mengutamakan kepuasan non-harga.

c.     Status Pemakaian

Segmen ini dapat dibagi atas bukan pemakai, bekas pemakai, pemakai teratur daro pembian tersebut, perusahaan dapat menentukan kelompok yang harus diperhatikan.

d.    Tahap Kesiapan

Pasar ini terdiri atas orang – orang dengan kesiapan yang berbeda–beda untuk membeli suatu produk, beberapa orang tidak menyadari keberadaan suatu produk, beberapa menyadari, beberapa orang yang menginginkan produk yang bersangkutan. Beberapa orang bermaksud untuk membeli dan beberapa orang tertarik terhadap produk tersebut.

e.    Sikap

Beberapa kelompok dapat ditemukan dalam suatu pasar yaitu sikap yang antusias, sikap yang positif, sikap yang tak acuh, sikap negatif dan sikap yang benci.

Dari berbagai definisi diatas, maka dapat dikatakan bahwa segmentasi pasar merupakan cara untuk membedakan golongan pelanggan yang mempunyai kebutuhan dan karakteristik yang sama untuk merespon atau membeli produk atau jasa yang ditawarkan.


Note:

Jika anda menggunakan tulisan ini pastikan merubah seluruhnya dengan kalimat anda sendiri untuk menghindari plagiasi. Bikintugas juga melayani jasa pembuatan pembuatan ppt untuk ujian.


Daftar pustaka

Lee, N. R., & Kotler, P. (2019). Social marketing: Behavior change for social good. Sage Publications.

Sunarsi, D. (2020). Pengaruh Bauran Pemasaran Dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Giant Dept Store Cabang BSD Tangerang. E-Mabis: Jurnal Ekonomi Manajemen dan Bisnis21(1), 7-13.

Kotler, P., & Armstrong, G. (2010). Principles of marketing. Pearson education.

Posted By | Admin Bikintugas Oktober 09, 2021

Kamis, 07 Oktober 2021

Definisi Kebijakan Moneter Yang diterapkan di Indonesia

Filled under:

 


Menurut pendapat Warjiyo, (2017) kebijakan moneter merupakan bagian integral kebijakan ekonomi makro yang dilakukan dengan pertimbangan siklus kegiatan ekonomi, sifat perekonomian suatu Negara, beserta factor-faktor fundamental/dasar ekonomi lainnya. Juga seperti yang diutarakan Del Rosa et al (2019) bahwa kebijakan moneter yang di maksud adalah upaya pengendalian atau mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang di inginkan dengan mengatur jumlah uang beredar. Perekonomian dengan kondisi yang baik adalah meningkatnya output keseimbangan dan atau terpeliharanya stabilitas harga (tingkat inflasi terkontrol). Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.

Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. Kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank Indonesia sebagai bank sentral mempunyai tujuan utama yaitu mencapai juga memelihara kestabilan nilai rupiah. Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.

Tahun 1999 merupakan Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia, sesuai dengan UU No.23/1999 yang menetapkan tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan tersebut BI didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas ini adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia. Ketiganya perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien (www.bi.go.id) Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mewujudkan stabilitas ekonomi makro terdiri dari kerangka strategis dan kerangka operasional. Kerangka strategis umumnya terkait dengan pencapaian tujuan akhir kebijakan moneter (stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan perluasan kesempatan kerja) serta strategi untuk mencapainya (exchange Rate targeting, monetary targeting, Inflation targeting, implicit but not explicit anchor)  (Novalina, 2019).

Menurut pendapat Osok et al (2019) dengan kebijakan moneter, bank sentral dapt mengendalikan jumlah uang beredar dengan cara mempertahankan, menambah atau mengurangi jumlah uang beredar ini, dalam analisis ekonomi makro, pengaruhnya cukup penting terhadap terhadap output perekonomian, serta mempunyai dampak ppada stabilitas harga sekaligus mengendalikan tingkat inflasi. Jumlah uang beredar pada masyarakat ini dalam kebijakan moneter konsvensional, diatur menggunakan instrument suku bunga yang dikontrol oleh bank sentral. Praktiknya, bank Indonesia selaku bank sentral, mengeluarkan kebijakan untuk mengendalikan tingkat suku bunga demi mempertahankan stabilitas nilai rupiah. Jika yang cara yang digunakan adalah menambah jumlah uang beredar, maka pemerintah dikatakan menempuh kebijakan moneter ekspensif. Sebaliknya jika jumlah uang beredar dikurangi, pemerintah menempuh kebijakan moneter kontraktif . kebijakan moneter ekspansif tersebut dilakukan saat tingkat perekonomian sedang rendah atau tingkat penggunaan tinggi, yang menurunkan tingkat suku bunga agar jumlah uang beredar bertambah. Sebaliknya pada saat perekonomian mengalami inflasi maka pemerintah akan menggunakan kebijakan kontraktif, salah satunya dengan meningkatkan tingkat suku bunga agar jumah uang beredar berkurang.

Namun pada praktiknya, kebijakan moneter ini tidak selalu dapat mengatasi permasalahan perekonomian. Hal ini dapat dibuktkan ppada krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dan tahun 208 yang mempunyai dampak cukup parah pada perekonomian Indonesia. Krisis yang terjadi pada saat itu terjadi dikarenakan  karena tidak seimbangnya instrument moneter kebijakan moneter. Ekonomi yang mengalami inflasi yang tidak terkawal, defisit neraca pembayaran yang besar, pembatasan perdagangan yang berkelanjutan, kadar pertukaran mata uang yang tidak seimbang, tingkat bunga yang tidak realistik, beban hutang luar negeri yang membengkak dan pengaliran modal yang berlaku berulang kali, telah menyebabkan kesulitan ekonomi, yang akhirnya akan memerangkapkan ekonomi negara ke dalam krisis ekonomi (Astuti & Hastuti, 2020).

Note: Pastikan untuk mengedit kalimatnya jika ingin menggunakan tulisan ini. Bikintugas juga melayani jasa publikasi jurnal internasional, pembuatan artikel jurnal dari skripsi-tesis-disertasi dengan harga yang terjangkau.

Daftar Pustaka 

Warjiyo, P. (2017). Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter di Indonesia (Vol. 11). Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Del Rosa, Y., Agus, I., & Abdilla, M. (2019). Pengaruh Inflasi, Kebijakan Moneter dan Pengangguran Terhadap Perekonomian Indonesia. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Dharma Andalas21(2), 183-293.

Novalina, A. (2019). Efek Simultanitas Kebijakan Moneter Terhadap Perubahan Ekonomi Makro Negara Civi. JEpa4(2), 37-47.

Osok, M., Kumaat, R. J., & Mandeij, D. (2019). ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN MONETER TERHADAP TINGKAT INFLASI DI INDONESIA PERIODE 2008. I–2017. IV. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi19(02).

Astuti, R. D., & Hastuti, S. R. B. (2020). Transmisi Kebijakan Moneter Di Indonesia. Jurnal Ekonomi-Qu10(1), 1-22.

Posted By | Admin Bikintugas Oktober 07, 2021

Sabtu, 02 Oktober 2021

Iklan dan Aspek Perilaku Konsumtif Konsumen Makalah Bikintugas

Filled under:


Definisi Iklan

Menurut Morissan (2010) iklan merupakan bentuk komunikasi nonpersonal tentang organisasi, produk, pelayanan, atau ide yang membayar media iklan/sponsor untuk di sebarluaskan. Artinya jika ingin menampilkan iklan suatu produk berupa barang atau jasa maka penyedia produk atau perusahaan membayar media iklan atau sponsor, (Rangkuti, 2009). Sebagai contoh mie sedap membayar saluran televisi Indonsiar untuk menampilkan iklan miliknya. Iklan merupakan cara terbaik untuk membangun citra jangka panjang produk atau perusahaan yang dapat menimbulkan keinginan membeli (Tjiptono, 2001). Iklan juga dapat berperan untuk mendidik dan membangun pemahaman tentang merek produk sehingga memiliki daya saing terhadap produk lain. Iklan digunakan untuk mempromosikan suatu produk secara umum yang menyajikan ide, bentuk produk atau jasa secara umum oleh perusahaan tertentu dengan membayar media pengiklan, (Kotler, 2002). 

Berdasarkan pengertian beberapa ahli diatas dapat diambil kesimpulan bahwa iklan merupakan kegiatan mempromosikan suatu produk baik barang atau jasa agar masyarakat dapat mengenal dan memahami tentang merek produk yang disampaikan melalui media tertetentu missal televisi.

Aspek perilaku konsumtif

  1. Pembelian impulsive menunjukkan bahwa seorang membeli semata-mata karena hasrat yang tiba-tiba muncul dan sifatnya hanya sesaat. Sehingga kebanyakan orang melakukan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi kemudian karena dipengaruhi emosinalnya. Pendapat lain mengatakan bahwa impulsive buying merupakan perilaku orang dimana orang tersebut tidak merencanakan sesuatu dalam berbelanjan, (Kharis, 2011). Selain itu pembelian impulsive juga terjadi karena desakan tiba-tiba yang memiliki sifat yang kuat dan menetap untuk membeli sesuatu dengan segera . Keinginan membeli yang kuat merupakan salah satu sifat foya-foya yang dapat memicu konflik emosional sehingga pembelian impulsive mudah terjadi karena adanya keinginan membeli yang kuat. Karakteristinya yaitu, 1) spontanitas, 2) kekuatan, kompulsi, itensitas, 3) gairah dan stimulasi, 4) ketidak pedulian akan akibat.
  2. Perilaku konsumtif disebut juga sebagai pemborosan karena banyak biaya yang dikeluarkan tanpa disadari untuk memiliki barang atau menikmati jasa tertentu. Boros adalah membelanjakan sesuatu tidak tepat dan melebihi ukuran yang semestinya. Misalkan membeli minuman berbagai jenis rasa, padahal belum tentu di minum semuanya. 
  3. Perilaku konsumtif didasari mencari kesenangan merupakan perilaku membeli suatu produk dilakukan karena untuk mencari kesenangan semata. Salat satu yang dicari adalah kenyamanan fisik dimana orang akan merasa senang jika memiliki suatu produk tertentu. Misal seorang siswa membeli smartphone yang paling mahal karena merasa dia orang kaya jika dia memilikinya dan berbeda dengan yang lainnya.
Note:
Disini bikintugas juga melayani jasa pembuatan artikel dari skripsi tentang iklan dan perilaku konsumtif konsumen dan juga mengurangi plagasi. Untuk menggunakan tulisan ini mohon dirubah kalimatnya.

Daftar Pustaka

Morissan. 2010. Periklanan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Ramdina Prakarsa.

Kotler, P. 2002. Manajemen Pemasaran, Jilid 1, Edisi Milenium. Jakarta: Prehallindo.

Rangkuti, F. 2009. Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus Integrated Marketing Communication. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tjiptono, F. 2001. Strategi Pemasaran. Edisi Pertama. Yogyakarta: Andi Ofset.


Posted By | Admin Bikintugas Oktober 02, 2021

Jumat, 01 Oktober 2021

Pengertian E-commerce dalam Perkembagan Teknologi Digital 4.0

Filled under:


Definisi Ecommerce

Mulanya bisnis E-commerce terjadi saat awal tahun 1970 yang kegiatan bisnisnya hanya transaksi perdagangan biasa secara elektronik. Transaksi yang dilakukan saat itu hanya berupa pengiriman dokumen bisnis dan pesanaN produk. Berkembangnya Internet dalam World Wide Web membuat banyak yang peneliti bidang teknologi memulai bisnis online, (Za dkk, 2017). Saat pertama kali E-commerce muncul, perkembangannya sangat cepat menyebar ke berbagai penjuru benua Amerika, Eropa dan Asia Timur. Kemajuan teknologi yang sangat pesat mendukung perkembangan E-commerce di seluruh dunia hingga saat ini. Akses internet yang semakin mudah didapatkan menjadikan bisnis E-commece  dapat dijangkau oleh seluruh kalangan masyarakat. Terlebih lagi manusia saat ini sudah mulai terbiasa menggunakan perangkat teknologi komunikasi yang canggih seperti smartphone dengan koneksi internet sebagai pendukungnya sehingga akses E-commerce pun akan semakin mudah. Banyak sekali situs e-ecommerce yang sudah memiliki popularitas seperti Ebay, Lazada, Amazon, Alibaba, Flip Kart dan masih banyak lagi. 

Pekembangan teknologi menjadikan bisnis E-commerce dapat berkembang pesat. Saat ini transaksi perdagangan dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka pembeli dan penjual barang atau jasa. E-commerce bisa disebut sebagai perdagangan elektronik yang melibatkan transaksi jual beli secara online yaitu melalui koneksi internet dan jaringan komputer.  Pendapat lain mengatakan bahwa definisi E-commerce dibagi menjadi 2 hal penting yaitu: 1) dari segi komunikatif E-commerce merupakan layanan, pengiriman barang, layanan informasi, pembayaran melalui jaringan elektronik, 2) dari segi bisnis E-commerce merupakan aplikasi yang merupakan hasil dari kemajuan teknologi menuju sistem transaksi otomatis dalam dunia bisnis dan aliran kerja, 3) dari segi pelayanan E-commerce adalah alat yang digunakan untuk mempermudah perusahaan, konsumen, dan manajemen untuk memangkas biaya layanan dan meningkatkan kualitas layanan. 4) dari segi online E-commerce menyediakan layanan jual beli barang atau jasa melalui internet secara global, (Suyanto, 2003). Menurut Editor in Chief International Journal of Electronic Commerce adalah berbagi informasi bisnis, menjaga hubungan bisnis, dan melakuan traksaksi bisnis melalui jaringan internet (Tassabehji, 2003). 

E-commerce pada dasarnya bisnis yang berbasis web yang umumnya menggunakan World Wide Web (WWW) dengan berbagai plaform yang digunakan. Dengan menggunakan web, bisnis E-commerce harus memenuhi minimal fungsi utamanya yaitu: 1) deserminasi informasi, pengambilan data, promosi, pemasaran dan transaksi yaitu kepada pelanggan, pemasok, dan mitra bisnis, (Reynolds & Mofazali, 2000)

Dalam perkembangannya E-commerce dalam melakulan promosi dengan bantuan situs penyedia iklan seperti google adsense, facebook ads, intagram ads dan sebagainya. Agar bisa menampilkan iklan di situs pennyedia, pemilik E-commerce harus medepositkan sejumlah uang untuk biaya iklan. Beberapa situs penyedia iklan umumnya menarik biaya iklan berdasarkan klik iklan, berdasarkan target iklan, frekuensi iklan tampil, dan page view nya. 

Note:

Jika ingin membuat jurnal pastikan referensi sesuai dengan yang di kutip dengan yang ada di daftar pustaka. Bikintugas melayani jasa pembuatan jurnal dan publikasi jurnal. Tolong jika anda ingin menggunakan tulisan ini pastikan kalimatnya dirubah atau parafrase.

Daftar Pustaka

Za, S.Z., Hudayah, S., Hidayati, T. 2017. Analysis of People’s Interests in Using E-Commerce Service from Tokopedia and Bukalapak based on the Quality of the Service, Design, and the Popularity of the Websites. European Journal of Economic Studies. 6(1), 66-74.

Suyanto, M., 2003, Multimedia Alat untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing, Andi Offset, Yogyakarta.

Tassabehji, R. (2003). Applying E-commerce in Bussiness. India: Sage Publications.

Reynolds, J., & Mofazali, R. (2000). The complete e-commerce book: design, build, and maintain a successful web-based business. Cmp Books.

Kontak:
Admin Yuda
No.Telp : 081515147161 (whatsapp, sms, call)
e-mail: bikintugasku@gmail.com

Posted By | Admin Bikintugas Oktober 01, 2021

Tentang Prestasi Kerja dan Hubungannya dengan Kompensasi pada Karyawan

Filled under:



Kompensasi

Perusahaan memberikan penghargaan terhadap prestasi kerja karyawan yaitu dengan  memberikan kompensasi. Menurut Hasibuan (2012) “Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan”. Menurut Cascio F. Wayne dalam Mangkuprawira (2004) “Kompensasi meliputi bentuk pembayaran tunai langsung, pembayaran tidak langsung dalam bentuk manfaat karyawan dan insentif untuk memotivasi karyawan agar bekerja keras untuk mencapai produktivitas yang semakin tinggi”. Berdasarkan pendapat para ahli di atas mengenai definisi kompensasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kompensasi adalah segala sesuatu yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan, sebagai balas jasa atau imbalan atas kinerja yang dihasilkan oleh karyawan, untuk kepentingan perusahaan.

Prestasi Kerja

Ukuran terakhir keberhasilan dari suatu perusahaan adalah prestasi kerja. Karena baik departemen itu sendiri maupun karyawan memerlukan umpan balik atas upayanya masing-masing, maka prestasi kerja dari setiap karyawan perlu dinilai. Menurut Hasibuan (2008) menyatakan bahwa: “Prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas–tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu”. Sedangkan menurut Sutrisno (2011) “prestasi kerja adalah sebagai hasil kerja yang telah dicapai oleh seseorang dari timgkah laku kerjanya dalam melaksanakan aktifitas” Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa prestasi kerja merupakan hasil yang dapat dicapai seseorang di dalam melakukan pekerjaan yang menjadi tugasnya yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi.

Hubungan Kompensasi dengan Prestasi Kerja

Suatu pemberian Kompensasi baik finansial maupun non finansial merupakan faktor penting untuk dapat menarik, memelihara maupun mempertahankan tenaga kerja bagi kepentingan organisasi. Prestasi kerja karyawan seringkali sangat tergantung pada tingkat balas jasa yang diberikan oleh perusahaan, karena dengan pemberian balas jasa yang lebih tinggi atau besar pekerja mampu meningkatkan prestasi kerjanya agar bekerja lebih keras lagi. Menurut Simamora (2006) “individu termotivasi untuk bekerja manakala dia merasa bahwa imbalan didistribusikan secara adil. Semakin mereka diimbali secara berimbang dengan karyawan-karyawan lain yang memegang jabatan yang sama semakin mereka menghargai pekerjaan di dalam organisasi mereka. Dari pernyataan di atas dapat diektahu hipotesis dari penelitian ini yaitu: 1) H1: diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kompensasi finansial langsung (X1), kompensasi tidak langsung (X2) terhadap prestasi kerja (Y), 2) H2: diduga variabel kompensasi finansial langsung (X1) berpengaruh secara parsial terhadap prestasi kerja (Y), 3) H3: diduga variabel kompensasi finansial tidak langsung (X2) berpengaruh secara parsial terhadap prestasi kerja (Y).

Referensi / Daftar Pustaka
Hasibuan, M.S.P. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi revisi. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Hasibuan, M.S.P. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi revisi. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Mangkuprawira, S. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. Bogor: Ghalia Indonesia.
Simamora, H. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi III. Yogyakarta : STIE YKPN.
Sutrisno, E. 2011. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana

Admin Yuda Iswanto 
No Telp : 081515147161 (whatsap)
E-mail :bikintugasku@gmail.com

Posted By | Admin Bikintugas Oktober 01, 2021