Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 November 2018

Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Kompensasi

Filled under:



Berdasarkan pendapat Rivai (2009) faktor yang mempengaruhi kebijakan kompensasi perusahaan antara lain: 1) Tujuan Strategis 2) tingkat upah berlaku, 3) kekuatan serikat pekerja, 4) kendala pemerintah, 5) pemerataan pembayaran, 6) penyesuaian dan strategi kompensasi, 7) tantangan kompensasi internasional, 8) produktivitas dan biaya. Oleh karena itu bikintugas.com akan menjabarkan  faktor-faktor tersebut:

Tujuan Strategis
Untuk mengatur kompensasi yang akan diberikan kepada karyawan harus memperhatikan  asas keadilan yang bagi karyawan baik keadilan internal maupun keadilan eksteranl. Hal tersebut dapat digunakan sebagai strategi perusahaan untuk menggerakkan karyawan. Misalnya saja  sebuah pabrik yang menekankan sistem pembayarannya yang didasarkan pada tingkat pengetahuan dan keahlian karyawan; tidak inheren pada nilai permintaan pekerjaan. Makin tinggi keahlian dan pengetahuan yang dimiliki karyawan, maka makin besar pula tingkat pembayarannya. Tetapi perusahaan yang menghubungkan tingkat pembayarannya dengan hubungan nilai relatif dari pekerjaan dengan tingkat yang berlaku di pasar kerja.


Tingkat Upah Berlaku
Di Indonesia upah yang diberikan kepada karyawannya telah diatur dalam Upah Minimum Regional (UMR). Tekanan UMR dan pasar dapat menyebabkan beberapa pekerjaan dibayar lebih mahal daripada nilai relatif pekerjaan mereka. Selain itu kepadatan penduduk, suplai, permintaan tenaga kerja juga cukup mempengaruhi kompenasi. Apabila kelebihan tenaga kerja untuk bidang tertentu akan meningkatkan pembayaran terhadap apa yang telah dikerjakan. 

Kekuatan Serikat Pekerja
Dalam dunia kerja, serikat pekerja memiliki daya tawar yang tinggi terhadap upah karyawan, khususnya mereka yang telah tergabung pada organisasinya. Dalam serikat yang memiliki peran sebagai pemasok tenaga kerja yang berkualitas, penentuan upah yang menekan bisa dalam bentuk tertulis, tapi juga bentuk pemogokan sampai terjadi kesepakatan antara perusahaan dan pekerja. Tentunya hal ini akan berdampak pada perusahaan sehingga harus memperhatikan sejauh mana untung dan ruginya jika menangani pemogokan karena tuntutan upah atau diperlukan menaikkan sesuai keinginan pekerja. Jika hal ini terjadi pastinya perusahaan akan dihadapkan pada situasi yang dilematis. Bila kenaikan gaji atau upah dipenuhi hal ini dapat meninkatkan biaya produksi yang dapat menimbulkan laba perusahaan menurun. Jika tidak dituruti keingginan pekerjanya bisa mogok kerja dan dapat menimbulkan produksi akan terhenti dan jalannya system perusahaan akan kacau. Dalam situasi tertentu perusahaan bisa jadi mengubah strateginya dari pendekatan padat karya ke padat modal atau relatif banyak menggunakan faktor produksi otomatisasi yang hemat tenaga kerja.

Kendala Pemerintah
Dalam menerapkan undang undang ketenaga kerjaan, peraturan pemerintah dan kebijakan yang telah diterapkan pemerintah banyak yang menganggap kurang adil dari segi perusahaan maupun bagi karyawan. Bagi perusahaan yang tidak adil adalah penentuan upah minimum regional, jaminan sosial, dan masih banyak lagi. Aturan tentang larangan penggunaan tenaga kerja di bawah usia juga termasuk salah satu bentuk ketidak adilan.

Pemerataan Pembayaran
Pemertaraan pembayaran dilakukan setiap perusahaan atas dasar persamaan hak dan persamaan pekerjaan. Seharusnya tidak sampai terjadi ada undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengikat yang membedakan pemberian pembayaran hanya karena adanya perbedaan seks. Seharusnya yang lebih ditekankan adalah sistem merit dari pembayaran, bukan faktor yang lain. Tetapi jauh lebih penting dari pemerataan pembayaran adalah banyak mempertimbangkan faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya jurang yang lebar dalam hal pembayaran dari satu pekerjaan dengan pekerjaan lain dan dari satu pekerja dengan pekerja lainnya. Untuk itu dibutuhkan evaluasi pekerjaan, termasuk evaluasi beban, secara cermat dan mampu dibandingkan secara objektif.

Penyesuaian dan Strategi Kompensasi
Kebanyakan perusahaan memiliki strategi dan kebijakan kompensasi di mana gaji dan upah dapat disesuaikan setiap waktu. Sebuah strategi umum adalah memberi pekerja yang bukan anggota serikat pekerja gaji yang sama dengan mereka yang menjadi anggota. Hal ini sering dilakukan untuk mencegah terjadinya unionisasi lebih jauh. Insentif atau bonus untuk tugas-tugas internasional merupakan bentuk penyesuaian-penyesuaian lainnya. Di beberapa perusahaan, utamanya di perusahaan besar, pembayaran insentif di atas upah yang berlaku dengan maksud untuk memberi daya tarik dan mempertahankan karyawan terbaiknya. Termasuk dalam hal penyesuaian pembayaran jika secara nasional ternyata terjadi peningkatan biaya hidup di kalangan masyarakat.

Tantangan Kompensasi Internasional
Pengaruh bisnis global sangat mempengaruhi kebijakan pemberian kompensasi.Analis kompensasi harus memfokuskan tidak hanya pada aspek keadilan, tetapi juga pada daya saing. Banyak sekali perusahaan di Indonesia yang bertaraf internasional yang memiliki pendapatan yang seharusnya mampu membayar gaji karyawannya lebih besar tetapi memanfaatkan upah minimum regional. Akan tetapi, hal lain yang mungkin terjadi adalah upah dan gaji patokan di negara lain, misalnya di negara maju yang memiliki daya saing tinggi mungkin malah dapat menyebabkan terjadinya komponen biaya tenaga kerja yang lebih mahal dibanding di negara yang kurang maju. Implikasinya adalah perusahaan domestik harus melakukan restrukturisasi komponen biaya produksinya agar terjadi efisiensi produksi.

Produktivitas dan Biaya
Dalam keadaan apa pun sebuah perusahaan memiliki komitmen untuk memperoleh keuntungan usaha agar dapat tetap hidup. Tanpa keuntungan, mereka tidak dapat memberikan daya tarik tersendiri yang cukup untuk para investor untuk mempertahankan daya saing. Oleh karena itu, sebuah perusahaan bisa jadi tidak mampu membayar karyawannya lebih besar daripada kontribusi yang diberikan karyawan dalam bentuk produktivitas. Namun demikian, jika hal ini harus terjadi, misalnya karena keterbatasan pekerja dan kekuatan serikat kerja, perusahaan harus merancang kembali pekerjaan-pekerjaan mereka, melatih karyawan baru untuk meningkatkan pasokan pekerja, otomatisasi, inovasi, atau keluar dari bisnis.


DAFTAR PUSTAKA
Rivai, V. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan
Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Posted By Yuda IswantoNovember 03, 2018

Selasa, 30 Oktober 2018

Prestasi Kerja dan Penilaian Prestasi Kerja

Filled under:



Jika membutuhkan jasa di website ini hubungi admin
Yuda Iswanto
Email: bikintugasku@gmail.com
Whatsapp: 081515147161

Pengertian Prestasi Kerja
Pada umumnya perusahaan menginginkan jika karyawannya dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tetapi jika tuntutan itu harus dipenuhi karyawan, maka perlakuan perusahaan jelas berbedan seperti perlakukan dengan alat produksi lainnya misalnya pada mesin produksi. Karyawan wajib di ikutsertakan pada kegiatan yang dapat mendukung pekerjaan yang dilakukan agar lebih baik dan mampu menggunakan alat-alat produksi di perusahaannya. Tanpa peran aktif dari karyawan, peralatan yang ada akan sia-sia bagi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Salah satu tolak ukur keberhasilan perusahaan salah satunya adalah prestasi kerja. Perlunya umpan balik karyawan dan perusahaan, prestasi kerja diperlukan penilaian agar perusahaan dapat memberikan evaluasi. 

Ukuran terakhir keberhasilan dari suatu perusahaan adalah prestasi kerja. Karena baik departemen itu sendiri maupun karyawan memerlukan umpan balik atas upayanya masing-masing, maka prestasi kerja dari setiap karyawan perlu dinilai. Djati dan Khusaini (2004) menyatakan bahwa prestasi kerja merupakan hasil kerja yang telah dicapai seseorang dalam melaksanakan pekerjaan yang telah diberikan berdasarkan atas kemampuan, kecakapan, pengalaman, kesungguhan, dan waktu. 

Sedangkan menurut Nurrofi (2012) prestasi kerja merupakan hasil kerja yang dicapai seseorang atau karyawan sebagai hasil dari perilaku kerja dalam melaksanakan aktiviasnya yang didasari oleh rasa tanggung jawab.


Dari kedua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai seseorang dalam melakukan pekerjaan yang telah diberikan kepadanya karena adanya rasa tanggung jawab dan dikerjakan berdasarkan pengetahuan, sikap, keterampilan, dan motivasi.

Penilaian Prestasi Kerja
Menurut Yolanda et al., (2018) menyatakan bahwa penilaian prestasi kerja dapat dilakukan dengan mengetahu unsur-unsur dari prestasi kerja yang akan dinilai. Unsur-unsut tersebut antara lain ketepatan kerja, ketelitian kerja, kebersihan kerja, dan sikap kerja. Kualitas kerja terdiri dari output dan penyelesainan pekerjaan yang dilakukan. Ketelitian kerja merupakan kehati-hatian dalam pekerjaan sehingga menghasilkan pekerjaan yang baik dan rapi. Kebersihan kerja merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga kebersihan tempat bekerja. Sikap kerja merupakan usaha untuk menyesuaikan diri sendiri kepada lingkungan perusahaan.

Menurut Sunardi, (2011) penilaian kinerja “(performance appraisal) merupakan proses evaluasi karyawan dalam melakukan pekerjaan mereka dengan perangkat standart yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dan kemudian mengomunisasikan informasi tersebut kepada karyawan. Penilaian kinerja juga disebut pemeringkatan karyawan, evaluasi karyawan, tinjauan kinerja, evaluasi kerja, dan penilaian hasil. Penilaian kinerja digunakan secara luas untuk mengelola upah dan gaji, memberikan umpan balik kinerja, dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan karyawan individual.

Menurut Zudia dan Nasir (2010) melakukan penilaian kerja karyawan wajib menggunakan standart dan tolak ukur keberhasilan kerja yang dapat dipertanggung jawabkan . Pendapat  Ananta dan Winiarti (2013) mengemukakan bahwa penilaian kerja dapat diukur melalui prestasi kerja yang bersifat subjektif dan objektif. Ukuran-ukuran prestasi kerja obyektif adalah ukuran-ukuran yang dibuktikan atau diuji oleh orang lain. Ukuran-ukuran subyektif adalah ukuran-ukuran penilaian yang tidak dapat dibuktikan atau diuji oleh orang lain”.

DAFTAR PUSTAKA
Djati, S. P., & Khusaini, M. K. M. (2004). Kajian terhadap kepuasan kompensasi, komitmen organisasi, dan prestasi kerja. Jurnal manajemen dan Kewirausahaan, 5(1), 25-41.
Nurrofi, A. (2012). Pengaruh Disiplin Kerja dan Pengalaman Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada Departemen Produksi PT. Leo Agung Raya Semarang. Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan, 3(1).
Yolanda, A., Ranita, S. V., Idris, I., & Nurismilida, N. (2018). Efektivitas Penilaian Prestasi Kerja Karyawan (Studi Kasus: Ptpn Iv (Persero)-Kebun Tinjowan Simalungun). Jurnal Bis-A: Jurnal Bisnis Administrasi, 4(2), 69-74. 
Sunardi, H. (2011). Pengaruh penilaian kinerja dengan ROI dan EVA terhadap return saham pada perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia. Jurnal akuntansi, 2(1), p-70. 
Zudia, M., & Nasir, M. (2010). Analisis Penilaian Kinerja Organisasi dengan Menggunakan Konsep Balanced Scorecard pada PT Bank Jateng Semarang (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro).
Ananta, P. W., & Winiarti, S. (2013). Sistem Pendukung Keputusan Dalam Penilaian Kinerja Pegawai untuk Kenaikan Jabatan Pegawai menggunakan Metode GAP Kompetensi (Studi Kasus Perusahaan Perkasa Jaya Compuretail). JSTIE (Jurnal Sarjana Teknik Informatika)(E-Journal), 1(2), 574-583. 

Posted By Yuda IswantoOktober 30, 2018

Minggu, 28 Oktober 2018

Kompensasi, Gaji, Upah, Insentif dan Tunjangan

Filled under:



Jenis - Jenis Kompensasi
Kompensasi adalah salah satu kewajiban yang harus diberikan perusahaan kepada karyawannya karena telah melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang ditentukan atau melebihi target. Kompensasi diberikan guna untuk mempertahankan kinerja karyawan agar lebih baik laik. Karyawan akan merasa pekerjaanya dihargai sehingga akan memicu semangat untuk bekerja lebih giat lagi jika kompensasi diberikan. Riyadi, (2011) menyebutkan bahwa konpensasi dibagi menjadi 2 macam yaitu kompensasi finansial langsung dan kompensasi non finansial. Kompensasi Finansial Langsung merupakan timbal balik yang diberikan kepada karyawan secara langsung. Kompensasi finansial antara lain:



Gaji atau Upah
Upah dibayarkan ketika karyawan mengerjakan pekerjaan dengan jangka waktu tertentu, misalnya perjam, setengah hari (4 jam), sehari (8 jam). Semakin lama jam kerjanya akan mempengaruhi besarnya upah yang akan didapatkan. Gaji merupakan bayaran yang dibayarkan dalam jangka waktu tertentu misalnya mingguan, harian, atau tahunan yang terlepas dari lama bekerjanya. Tetapi pada umunya jam kerja yang ada di Indonesia antara 8 jam sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan apabila lebih dari itu akan di hitung sebagai lembur.

Insentif
Insentif merupakan tamhanan kompensasi yang diberikan diluar upah atau gaji oleh perusahaan Insentif diberikan karena pekerjaan yang dilakukan melebihi target atau produktivitas dan keuntungan perusahaan telah meningkat. Insentif diberikan kepada karyawan menunjukkan perusahaan benar-benar menghargai apa yang dikerjakan karyawannya, sebagai timbal balik karena konstribusinya yang bagus dalam mengembangkan perusahaan.

Tunjangan
Tunjangan merupakan tambahan keuntungan yang ditawarkan perusahaan kepada karyawannya. Tunjangan dapat berupa, uang pensiun, asuransi kesehatan, tunjangan hari raya, dan tunjangan lainnya. Biasanya pada perusahaan tunjangan lebih sering diberikan karena pajaknya sedikit bahkan tidak ada, daripada memilih menaikkan gaji karyawannya yang berdampak pada pajak dan pengeluaran perusahaan.


Fasilitas
Fasilitas merupakan sarana dan prasarana yang diberikan perusahaan kepada karyawannya. Fasilitas tersebut bisa berupa rumah dinas, mobil dinas, tempat parkir karyawan, keanggotaan, akses pesawat ke perusahaan.  Fasilitas mewakili jumlah substansial dari kompensasi, terutama bagi eksekutif yang dibayar mahal. Kompensasi Non Finansial terdiri atas kepuasan yang diperoleh seseorang dari pekerjaan itu sendiri atau dari lingkungan psikologis dan atau fisik dimana orang tersebut kerja.

Menurut Muljani (2004) kompensasi ada tiga macam, yaitu:
Gaji
Gaji merupakan balas jasa dalam bentuk uang yang diterima karyawan dari perusahaan tempat ia bekerja sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang karyawan yang memberikan sumbangan tenaga dan pikiran dalam mencapai tujuan perusahaan. Atau, dapat juga dikatakan sebagai bayaran tetap yang diterima seseorang dari keanggotaannya.
Upah
Upah merupakan imbalan finansial langsung yang dibayarkan kepada karyawan berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau banyaknya pelayanan yang diberikan. Jadi tidak seperti gaji yang jumlahnya relatif tetap, besarnya upah dapat berubah-ubah tergantung pada keluaran yang dihasilkan.
Insentif
Insentif merupakan imbalan langsung yang dibayarkan kepada karyawan karena kinerjanya melebihi target yang ditentukan oleh perusahaan. Insentif merupakan bentuk lain dari upah langsung di luar upah dan gaji yang merupakan kompensasi tetap, yang biasa disebut kompensasi berdasarkan kinerja (pay for performance plan). Insentif layak diberikan karena seorang karyawan telah memberikan konstribusi kepada perusahaan tempat ia bekerja yaitu dengan produktivitasnya yang meningkat sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan.

Suwati, Y. (2013) menyebutkan kompensasi dapat dibagi menjadi dua yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non finansial,
  1. Kompensasi fiansial terdiri dari kompensasi finansial langsung (direct financial  compensation) dan kompensasi finansial tidak langsung (indirect financial compensation). Komponen finansial langsung terdiri dari gaji, upah, bonus, dan komisi. Sedangkan kompensasi finansial tidak langsung atau disebut juga tunjangan meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup dalam kompensasi finansial langsung seperti asuransi dan liburan atas dana organisasi.
  2. Kompensasi non finansial (nonfinancial compensation) adalah kompensasi yang diterima atas dasar pekerjaan itu sendiri seperti tanggung jawab, peluang akan pengakuan, peluang adanya promosi, lingkungan psikologis dan atau fisik dimana karyawan tersebut berada, seperti rekan kerja yang menyenangkan, kebijakan-kebijakan yang sehat, adanya kafetaria, sharing pekerjaan, minggu kerja yang dipadatkan dan adanya waktu luang.

Daftar Pustaka
Riyadi, S. (2011). Pengaruh kompensasi finansial, gaya kepemimpinan, dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada perusahaan manufaktur di Jawa Timur. Jurnal manajemen dan kewirausahaan, 13(1), 40-45.
Muljani, N. (2004). Kompensasi sebagai motivator untuk meningkatkan kinerja karyawan. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 4(2), 108-122.
Suwati, Y. (2013). Pengaruh kompensasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. Tunas Hijau Samarinda. Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis, 1(1), 41-55.

Posted By Yuda IswantoOktober 28, 2018

Kamis, 25 Oktober 2018

Kompensasi: apa hubungannya dengan Prestasi Kerja?

Filled under:




Hubungan Kompensasi dan Prestasi Kerja
Kompensasi merupakan pemberihan hak baik finansial maupun non finasial yang merupakan salah satu faktor penting untuk mempertahankan tenaga kerja bagi suatu organisasi. Prestasi kerja karyawan tergantung pada tingkat balas jasa yang diberikan, jika pemberian kompensasi tinggi atau besar maka semangat dan motivasi karyawan akan meningkat dalam bekerja sehingga kompensasi dapat mendoro karyawan bekerja lebih keras lagi. Sinamora (2005) menyatakan bahwa individu akan termotivasi untuk bekerja jika imbalan yang diterima adil baginya. Semakin baik perusahaan memberikan imbalan karyawan akan semakin menghargai pekerjaannya.

Prestasi Kerja
Prestasi kerja merupakan tolak ukur keberhasilan pekerjaan yang dilakukan karyawan suatu perusahaan. Setiap perusahaan membutuhkan penilaian kerja karyawannya agar dapat umpan balik untuk proses kerja selanjutnya. Menurut Hasibuan (2008) prestasi kerja merupakan hasil kerja yang didapatkan seseorang dalam melakukan tugas yang diberikan, didasarkan atas kecakapan pengalaman, kesungguhan, dan waktu pengerjaan. Pendapat lain mengatakan Edy (2011) menyatakan bahwa prestasi kerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dari perilaku kerjanya dalam melaksanakan aktifitasnya. Kesimpulan yang dapat diambil dari kedua pendapat tersebut adalah prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan tugas yang diberikan yang didasari atas pengalaman, pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi kerja.


Kompensasi
Penghargaan yang diberikan perusahaan kepada karyawannya dinamakan kompensasi. Hasibuan (2008) mengatakan bahwa kompensasi merupakan pendapatan karyawan yang berbentuk uang atau barang langsung dan tidak langsung sebagai imbalan atas pekerjaan yang dilakukan. Biasanya kompensasi akan diberikan jika karyawan melakukan lembur, melebihi target tertentu, menemukan inovasi baru dan masih banyak lagi penyebab kompensasi yang diberikan. Menurut Mangkuprawira (2004) “Kompensasi meliputi bentuk pembayaran tunai langsung, pembayaran tidak langsung dalam bentuk manfaat karyawan dan insentif untuk memotivasi karyawan agar bekerja keras untuk mencapai produktivitas yang semakin tinggi”. Dari beberpa pendapat yang telah diurakan dapat disimpulkan bahwa kompensasi merupakan segala sesuai yang diberikan kepada perusahaan sebagai balas jasa atau imbalan atas pekerjaan yang dihasilkan karyawan. Menurut  Hasibuan (2008) tujuan pemberian kompensasi (balas jasa) antara lain adalah: 

Menurut Edy (2011), prestasi kerja memiliki tiga faktor pendukung yaitu : 
1. Kemampuan, perangai dan minat seorang pekerja. 
2. Kejelasan dan penerimaan atas penjelasan peranan seorang pekerja. 
3. Tingkat motivasi kerja. 

Meskipun setiap faktor dapat memiliki pengaruh penting, tetapi ketiga faktor pendukung tersebut sangat menentukan hasil yang dilakukan setiap pekerja. Mangkunegara (2009) menyatakan beberpaka faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi kerja antara lain :
Faktor Kemampuan: secara psikologis, kemampuan (ability) karyawan terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realiti (knowledge + skill). Artinya, karyawan yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110 - 120) dengan pendidikan yang sesuai dengan pekerjan yang dilakukan untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai prestasi kerja yang diharapkan. Oleh karena itu, karyawan perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai  dengan keahliannya (the right man on the right place, the right man on the right job)
Faktor Motivasi: terbentuk dari sikap (attitude) seorang karyawan dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja) dengan motif berprestasi. Motif bereprestasi adalah suatu dorongan dalam diri pegawai untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mampu mencapai prestasi kerja dengan predikat terpuji.

Ikatan Kerja sama. 
Pemberian kompensasi dapat menjalin kerjasama formal atara perusahaan dan karyawan. Perusahaan wajib memberikan kompendasi sesuai dengan kesepakatan dan karyawan harus mengerjakan tugas yang diberikan perusahaan dengan baik.

Kepuasan Kerja. 
Individu akan merasa puas dengan pekerjaan yang dilakukan apabila dihargai dengan layak apa yang dikerjakannya. Jika balas jasa diberikan, karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, status sosial, dan egoistiknya sehingga memperoleh kepuasan kerja dari jabatannya.

Pengadaan Efektif.
Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan yang qualified untuk perusahaan akan lebih mudah.

Motivasi. 
Jika balas yang diberikan oleh perusaahaan besar kepada karyawannya yang bekerja dengan baik, manajer perusahaan akan lebih mudah memotivasi untuk bekerja lebih baik lagi.



Stabilitas Karyawan. 
Dengan program kompensasi atas prinsip adil dan layak serta eksternal konsistensi yang kompentatif maka stabilitas karyawan  lebih terjamin karena turn over relatif kecil.

Disiplin
Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan semakin baik. Mereka akan menyadari serta menaati peraturan – peraturan yang berlaku.

Pengaruh Serikat Buruh.
Jika program kompensasi sesuai dengan undang – undang perburuan yang berlaku (seperti batas upah minimum) maka intervensasi pemerintah dapat dihindarkan.

Daftar Pustaka
Hasibuan, M. S. P. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi revisi. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Simamora, H. 2005. Membuat Karyawan Lebih Produktif Dalam Jangka Panjang (Manajemen SDM). Yogyakarta: STIE YKPN.
Edy, S. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit: Jakarta Kencana
Heidjraman, R. (2000). Manajemen Personalia. Edisi Keempat. Yogyakarta:BPFE Yogyakarta.
Mangkuprawira, S. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik.Edisi kedua.  Cetakan pertama. Bogor: Ghalia Indonesia.
Mangkunegara, A. P. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Incomig search terms:
ilmu manajemen
kompensasi kerja
prestasi kerja
manajemen sumber daya manusia
artikel manajemen
artikel manajemen sumber daya manusia
artikel hubungan kompensasi dan prestasi kerja
artikel ilmiah prestasi kerja
artikel ilmiah kompensasi kerja


Posted By Yuda IswantoOktober 25, 2018

Rabu, 24 Oktober 2018

Analisis Struktural Novel A Girl on the Train 2

Filled under:



Analisis struktural novel ini dilakukan dengan mengacu pada lima kode yang dikemukakan oleh Barthes (2015). Kode tersebut dapat digunakan dalam rangka memahami struktur sebuah teks. Sebagaimana pernyyataan yang dikemukakan Malik dkk. (2014) kelima kode tersebut antara lain dapat dijelaskan sebagai berikut.

Kode hermeneutic
Kode hermeutic disebut juga sebagai kode enigmatic. Kode tersebut mewakili elemen pada teks yang bersifat misterius, membingungkan, dan tidak dapat dijelaskan secara utuh pada narasi. Dengan demikian, pembaca dibuat semakin penasaran untuk lebih memahaminya. Seringkali, pembaca akan mengungkap misteri pada elemen tersebut dengan cara mengajukan pertanyaan. Salah satu kode hermeutic yang ditemukan dalam novel ini adalah misteri yang berkaitan dengan kemunculan ingatan Rachel. Penulis menggambarkan proses ini sebagai proses yang memunculkan baik kebenaran maupun ketidakbenaran secara bercampur aduk. Suatu hal yang disebut Barthes sebagai evocation (mixture of “truth” and “snare’).

Kode proairetic
Kode proairetic disebut juga sebagai kode aksi. Kode tersebut mewakili elemen pada cerita yang selalu menarik perhatian pembaca. Kode ini memungkinkan pembaca bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Kesan tentang keberadaan kode proairetic dalam novel ini sangat kuat, karena novel ini menyajikan proses pemecahan misteri yang rumit dan sangat detail. 
Kode ini merupakan bagian penting pada karya sastra tradisional. Pembaca harus menemukan urutan kronologis setiap peristiwa, situasi yang sedang terjadi, dan karakterisasi cerita. Pada novel ini, urutan kronologis cukup rumit untuk diungkap, karena cerita dipaparkan berdasarkan tiga sudut pandang yang masing-masing memiliki informasi untuk saling dikaitkan. Alur peristiwa yang diceritakan sering disampaikan dalam urutan maju dan mundur, melalui penceritaan langsung atau melalui flashback yang dilakukan para tokoh. Contoh-contoh peristiwa yang memuat kode proairetic dalam cerita ini adalah kronologi menghilangnya Megan Hipwell hingga kematiannya; fakta tentang masa lalunya bersama seorang pria bernama Mac dan kematian bayi perempuannya, Libby, karena kecerobohan Megan; dan kronologi retaknya rumah tangga Tom dan Rachel Watson.


Kode semantic
Kode semantic disebut juga dengan kode konotatif. Kode ini mewakili elemen yang memberikan makna tambahan atau makna konotatif. Banyak ungkapan konotatif yang digunakan dalam novel ini. Salah satu di antaranya adalah ungkapan “butterflies in my stomach” (kupu-kupu di dalam perut) yang menggambarkan keadaan gugup. Satu contoh lainnya adalah ungkapan “her face loses all colour” (mukanya kehilangan semua warna), menggambarkan keadaan wajah yang pucat karena ketakutan.


Kode symbolic
Kode symbolic atau yang disebut dengan kode antithetic merupakan kode yang menggambarkan adanya makna berkebalikan, misalnya adanya polaritas dan antitesis. Dalam novel ini, kode semantic salah satunya digambarkan melalui sikap Tom Watson yang membenci Rachel dengan memakinya sebagai wanita pemabuk yang menjijikkan, namun juga sebenarnya masih menaruh rasa perhatian terhadap mantan istrinya itu. Contoh lain yang menggambarkan kode ini yaitu kepribadian Megan Hipwell yang tampak seperti wanita baik-baik, pandai, dan mandiri namun juga merupakan wanita yang berkemauan keras, memiliki rasa penasaran tinggi dan senang berselingkuh.

Kode cultural
Kode cultural atau referential mewakili elemen yang memberikan pengetahuan umum terhadap pembaca. Melalui kode ini, pembaca memperoleh pengetahuan fisik, psikologis, medis, fisiologi, kesusastraan, atau sejarah. Pada novel ini juga didapatkan kode-kode yang memungkinkan pembaca memahami informasi tertentu. Misalnya jadwal kereta yang selalu tepat waktu di London (penulis menggambarkannya tepat setiap pukul 8.04 dan 5.56; penumpang kereta yang berbudaya membaca sesuatu sembari menunggu perjalanan berakhir (majalah, surat kabar, atau berita di internet); budaya pentingnya menghargai wilayah, privasi, dan kehidupan orang lain, dan lainnya.
Selain berdasarkan kelima kode yang telah dijelaskan, analisis terhadap novel A Girl on the Train ini juga dilakukan berdasarkan unsur-unsur intrinsik yang membangun novel tersebut. Unsur intrinsik yang dianalisis antara lain sebagai berikut. 

Plot
Plot merupakan cara penulis menyusun kejadian dalam rangka membangun ide pokok cerita. Plot tersusun atas urutan kejadian dalam suatu cerita. Plot suatu cerita sudah dirancang, dalam rangkaian logis yang memiliki permulaan, bagian tengah, dan akhir. Pada novel ini, plot yang digunakan sangat unik. Plot disusun dengan urutan yang harus dihubungkan sendiri oleh pembaca, karena alur cerita adalah campuran antara alur maju dan mundur. Bagian esensial plot novel ini terdiri atas bagian berikut.

Eksposisi : Merupakan bagian saat tokoh Rachel, Jason, Jess, Tom, dan Anna diperkenalkan. Perkenalan tokoh-tokoh tersebut terjadi melalui paparan situasi yang terjadi saat tokoh Rachel sedang mengendarai kereta menuju London. Sedikit demi sedikit karakter masing-masing tokoh mulai dielaborasi. Rachel yang merupakan pemabuk, Tom yang suka selingkuh, dan sebagainya.

Rising Action: Ini adalah bagian di mana cerita mulai rumit, konflik-konfil mulai diungkap. Konflik yang mulai diungkap pada bagian ini adalah bagian ketika Rachel melihat Jess (Megan Hipwell) berselingkuh dengan pria lain. Rachel yang selama ini mengagumi kehidupan keluarga Hipwell merasa harus berbuat sesuatu dan membantu Jason (Scott Hipwell).

  • Konflik: Bagian ini merupakan bagian terpenting cerita, yang pada novel ini ditandai dengan menghilangnya Megan secara misterius. Konflik semakin memuncak saat Megan ditemukan tewas terbunuh.
  • Konflik yang dihadapi pada novel ini terbagi menjadi konflik internal dan eksternal. Secara internal, konflik dihadapi oleh Rachel untuk berjuang mengembalikan ingatannya yang hilang di malam hilangnya Megan karena keadaannya yang sedang mabuk, dengan segala keterbatasan dan hambatan ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak terkait dengan kematian Megan. Sementara itu konflik eksternal yang dihadapi adalah permasalahan dengan mantan suaminya, Tom Watson, dan istri barunya, Anna. Selain itu, ada masalah antara Rachel dengan teman serumahnya, Cathy, karena Cathy sudah seringkali muak dengan perilaku Rachel saat mabuk-mabukan di rumahnya. Konflik eksternal juga dihadapi Rachel saat Scott mengetahui kebohongan-kebohongan Rachel yang diucapkannya mengenai hubungannya dengan Megan dan kasus yang terjadi.
Klimaks: Terjadi saat Rachel dengan bantuan terapis dan seorang penumpang kereta dapat kembali memperoleh ingatannya di malam hilangnya Megan. Terungkap kenyataan bahwa sebenarnya Tom adalah orang yang ia lihat bersama dengan Megan di malam itu.


Falling Action: Penyelesaian mulai terjadi saat Tom mulai mengakui kebohongan dan perselingkuhannya dengan Megan.

Resolusi (Penyelesaian): Karena Rachel dan Anna sudah mengetahui fakta tentang pembunuhan Megan, Tom ingin membunuh Rachel. Namun Rachel berhasil membela diri dan menyebabkan Tom terluka parah. Anna memastikan kematian Tom, dan Rachel melindungi Anna dari polisi. Pada akhirnya, Rachel menemukan kebahagiaan.


Setting
Setting yang digunakan dalam novel ini mencakup waktu dan tempat terjadinya peristiwa. Seluruh setting terjadi di Inggris, khususnya di suatu daerah bernama Corly dan Ashbury. Waktu yang diceritakan dalam novel meliputi rentang waktu yang lama, bertahun-tahun hingga tahun 2013. Kebanyakan setting pada waktu yang telah lampau terjadi melalui flashback yang dilakukan tokoh. Namun urutan peristiwa yang benar-benar sejalan dengan alur cerita dimulai sejak tahun 2012 hingga 2013. 
Setting cerita juga diungkapkan dalam bentuk kondisi cuaca. Kondisi cuaca yang diungkapkan dalam cerita adalah cuaca musim panas, saat udara sangat panas dan kelembaban tinggi. Kondisi hujan lebat berpetir juga sering muncul dalam cerita. Mengenai kondisi sosial, juga tampak sejumlah kebiasaan dan tatakrama yang dihormati di lingkungan masyarakat, misalnya untuk tidak mabuk di tempat dan kendaraan umum; menghargai wilayah pribadi dan privasi orang lain, dan sebagainya. 

Daftar Pustaka
Barthes. 2015. An Introduction to the Structuralist Analysis og Narrative. (Online). https://rosswolfe.files.wordpress.com/2015/04/roland-barthes-an-introduction-to-the-structuralist-analysis-of-narrative.pdf. Diakses tanggal 8 November 2016.
Eagleton. 2012. What is A Novel ?. (Online). http://www.blackwellpublishing.com/content/BPL_Images/Content_store/Sample_chapter/9781405117067/Eagleton_sample%20chapter_Then%20english%20novel.pdf. Diakses tanggal 8 November 2016.
Gita, S. 2012. Struktur Naratif dan Penokohan Tokoh Utama pada Novel Garuda Putig Karya Suparto Brata. (Online). http://eprints.uny.ac.id/8242/3/BAB%202-08205241004.pdf. Diakses tanggal 8 November 2016.
Hawkins, P. 2015. A Girl on the Train. New York: Penguin Group.
Malik, W. H., Zaib, S., dan Bughio, F. A. 2014. Theory into Practice: Application of Roland Barthes’ Five Codes on Bina Shah’s ‘The Optimist’. Academic Research International Vol 5 (5): 242-250.
Tyson, L. 2006. Critical Theory Today: A User Friendly Guide. New York: Routledge.


Admin
Yuda Iswanto
No Telp : 081515147161 (whatsap, sms, call)
E-mail : bikintugasku@gmail.com

Posted By Yuda IswantoOktober 24, 2018

ANALISIS STRUKTURALISME NOVEL: The Girl on the Train 1

Filled under:




Pendahuluan
Strukturalisme adalah suatu cabang ilmu yang bertujuan untuk memahami secara sistematis suatu struktur fundamental yang mendasari seluruh pengalaman, perilaku, dan ciptaan manusia (Tyson, 2006). Pendekatan strukturalisme dapat digunakan dalam upaya memahami berbagai hal. Di antara banyak hal tersebut, karya sastra merupakan salah satu dari berbagai pengalaman dan ciptaan yang ingin dipahami manusia melalui Strukturalisme. Dengan menggunakan Strukturalisme, sistem struktural dari suatu naskah karya sastra dapat dianalisis. Menurut Malik dkk. (2014), analisis karya sastra dengan menggunakan Strukturalisme dapat dilakukan untuk mengungkap struktur, kode, atau aturan-aturan yang membentuk naskah tertentu. Dengan demikian, struktur teks merupakan faktor terpenting yang diamati dalam Strukturalisme, mengesampingkan makna atau sisi tematik dari teks tersebut.

Analisis karya sastra secara struktural dikemukakan oleh Roland Barthes, strukturalis, filosof, dan ahli bahasa dari Perancis. Melalui buku S / Z yang diterbitkannya pada tahun 1970, ia mengemukakan metode yang dapat dilakukan untuk menganalisis karya sastra. Pada metode tersebut, terdapat lima kode yang dapat digunakan sebagai kerangka untuk memahami makna apa yang terkandung dalam teks. Lima kode tersebut meliputi kode hermeneutic, kode proairetic, kode semantic, kode simbolik, dan kode cultural. Analisis struktural pada karya sastra dipandang lebih objektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri.

Salah satu bentuk karya sastra yang banyak dikenal masyarakat adalah novel. Menurut Eagleton (2012), novel adalah sebuah karya sastra berupa prosa fiksi yang berukuran panjang. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Gita (2012) bahwa novel adalah prosa rekaan panjang yang bercerita tentang gambaran kehidupan. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa karya sastra novel berakar dari kisah cinta (romance). Kebanyakan novel memiliki tema kisah cinta, yang telah disesuaikan dengan peradaban dunia modern. Salah satu dari novel yang bertemakan kehidupan cinta adalah novel berjudul “A Girl on the Train”. Novel tersebut ditulis oleh Paula Hawkins dan diterbitkan pada tahun 2015 oleh penerbit Penguin Group (USA) LLC.


Lebih lanjut, Gita (2012) menyatakan bahwa novel memiliki unsur ekstrinsik dan intrinsik. Unsur intrinsik dijabarkan lebih lanjut terdiri atas peristiwa, plot, tokoh (dan penokohan), latar, sudut pandang, dan lain-lain. Unsur-unsur intrinsik tersebut turut membangun sebuah karya sastra, yang dalam hal ini adalah novel. Endraswara (2003) menyatakan bahwa analisis karya sastra yang dilakukan dengan menekankan pada unsur intrinsik lebih bersifat objektif. Dengan demikian, pada tulisan ini akan dilakukan analisis struktural novel A Girl on the Train melalui dua cara, yakni: 1) melalui metode yang dikemukakan oleh Barthes, dan 2) melalui analisis unsur-unsur intrinsiknya. 

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan beberapa permasalahan  sebagai berikut.
  1. Bagaimana sinopsis novel A Girl on the Train karya Paula Hawkins?
  2. Bagaimana hasil analisis struktural novel A Girl on the Train karya Paula Hawkins?
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang  telah dikemukakan, tujuan penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut.
  1. Untuk dapat memaparkan secara ringkas novel A Girl on the Train karya Paula Hawkins melalui sebuah sinopsis
  2. Untuk dapat menganalisis novel A Girl on the Train karya Paula Hawkins secara menyeluruh.
Sinopsis Novel A Girl on the Train
Novel A Girl on the Train merupakan novel yang ditulis oleh Paula Hawkins dan diterbitkan pada tahun 2015. Novel tersebut terdiri dari 1510 halaman yang meliputi:
Halaman sampul luar dan sampul dalam
Halaman Identitas novel, yang dapat dijabarkan sebagai berikut.
  1. Judul : A Girl on the Train
  2. Penulis : Paula Hawkins
  3. Penerbit : Penguin Group (USA) LLC; 375 Hudson Street New York 10014.
  4. Data Publikasi Katalog pada Library of Congress : Hawkins, Paula. The girl on the train / Paula Hawkins. p. cm. ISBN 978-0-698-18539-5
Berikut ini merupakan ringkasan atau sinopsis untuk novel A Girl on the Train.

Pada bulan Juli 2013 seorang wanita bernama Rachel Watson sedang berada dalam sebuah kereta dalam perjalanan ke London. Rachel menempuh perjalanan pulang pergi dari Ashbury ke London, dan sebaliknya setiap pagi dan sore untuk bekerja. Setiap kali berada di dalam kereta, ia gemar mengamati segala sesuatu: ekspresi orang-orang, bangunan, dan benda-benda di sepanjang sisi jalur kereta. Melalui perjalanannya setiap hari pula ia memiliki kekaguman pada sepasang suami istri (yang disebutnya sebagai Jason dan Jess) yang tinggal di Blenheim Road Nomor 15. 


Pasangan Jason dan Jess tinggal di daerah yang sama dengan rumah Rachel dulu sebelum ia bercerai dengan mantan suaminya, Tom Watson yang telah berselingkuh dan menikahi wanita lain bernama Anna. Perceraian itu terjadi karena Rachel selalu gagal untuk hamil hingga ia depresi dan memulai kebiasaan buruk minum minuman keras. Kebiasaan mabuk-mabukan tetap berlangsung, justru semakin parah setelah bercerai. Perilaku dan emosi Rachel semakin tidak stabil dan hingga pada akhirnya ia kehilangan pekerjaan. Dengan keadaan keuangan yang memprihatinkan Rachel tinggal menumpang di rumah temannya yang bernama Cathy. Dibandingkan dengan hidupnya, Rachel memandang kehidupan yang dimiliki Jess dan Jason sangat sempurna dan bahagia.

Namun demikian, ternyata kehidupan mereka tidak sesempurna yang dibayangkan. Pada suatu hari dalam salah satu perjalanan kereta, dari jendela kereta Rachel melihat Jess mencium seorang laki-laki selain Jason, Jess telah berselingkuh. Beberapa waktu kemudian, Jess dilaporkan hilang secara misterius dan menjadi penyelidikan polisi. Berdasarkan berita-berita setelah menghilangnya Jess, Rachel mengetahui nama Jess dan Jason yang asli yaitu Megan dan Scott Hipwell. Karena seluruh surat kabar dan juga polisi tidak menyebutkan apapun tentang laki-laki selingkuhan Megan, Rachel memutuskan untuk memberitahu Scott secara pribadi.

Scott dengan bantuan Rachel berhasil menyelidiki bahwa selingkuhan Megan adalah Dr. Kamal Abdic, terapis yang dipercaya pasangan Hipwell dalam mengatasi masalah Megan. Polisi akhirnya melakukan pemeriksaan terhadap Kamal tetapi pada akhirnya Kamal dilepas karena tidak cukup bukti yang mengarahkan bahwa ia terlibat dalam kasus hilangnya Megan. Karena kecewa, Rachel melakukan penyelidikan sendiri terhadap Kamal dengan cara mengikuti sesi terapinya, dengan dalih menyelesaikan masalahnya tentang kecanduan alkohol dan sering lupa ingatan saat mabuk parah. Rachel menyadari bahwa Kamal adalah pribadi yang sangat baik dan profesional, sangat mendukung pasiennya.


Satu hal yang mengganggu pikiran Rachel adalah bahwa pada saat malam hilangnya Megan, Rachel berada di daerah itu – Blenheim Road, tepatnya di daerah dekat perlintasan kereta. Ia sangat khawatir jika pada saat itu dalam keadaan mabuk ia telah secara tidak sadar melakukan hal yang buruk dan berhubungan dengan menghilangnya Megan. Melalui pasang surut ingatannya, Rachel akhirnya mengingat bahwa ia berada di daerah perlintasan bawah tanah di malam itu. Ia ragu-ragu apakan saat itu ia melihat Tom dan istrinya Anna berada di tempat yang sama. Anna sangat membenci Rachel karena selama ini Rachel masih tidak bisa pergi dari kehidupan Tom. Rachel sering menelepon ke rumah mereka tidak peduli itu tengah malam dan membangunkan bayi yang sedang tidur, datang tanpa diundang, menerobos rumah, hingga yang paling parah berusaha membawa kabur bayi perempuan Tom dan Anna.  

Penyelidikan terhadap hilangnya Megan membuat Rachel dan Scott menjadi lebih dekat. Rachel sering berada di rumah Scott untuk berbicara tentang Megan, atau sekedar untuk menenangkan Scott terutama setelah ternyata Megan ditemukan tewas di daerah Hutan Corly. Karena rumah Scott dan keluarga Watson (Tom dan Anna) cukup dekat, Anna sering melihat Rachel berada di sekitar rumahnya dan itu membuatnya sangat marah. Anna menelepon polisi dan melaporkan Rachel. Setelah laporan itu, Scott mengetahui bahwa Rachel berbohong tentang beberapa hal padanya, bahwa ia sebenarnya sama sekali tidak kenal Megan, bahwa ia sebenarnya hanya melihat kehidupan mereka berdua dari balik jendela kereta, bahwa sebenarnya ia adalah orang yang terobsesi pada mantan suaminya, pemabuk yang tidak stabil secara mental dan suka terlibat urusan orang lain. Scott yang sangat marah dan mabuk memukul Rachel, hingga ia berpikir apakah Scott yang sebenarnya telah membunuh Megan. Ada saksi yang mengatakan bahwa di malam sebelum hilangnya Megan, pasangan itu bertengkar hebat.

Teka-teki itu semakin membingungkan Rachel, hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan laki-laki berambut merah yang ditemuinya di kereta di malam hilangnya Megan. Atas bantuan laki-laki itu, Rachel mengingat bahwa yang ditemuinya di perlintasan bawah tanah di malam itu, bukan Tom dan Anna; melainkan Tom dan Megan. Ingatan tersebut membawa kecurigaan Rachel terhadap Tom. Di saat yang sama, Anna menemukan sebuah ponsel yang disembunyikan Tom selama ini dan mengetahui bahwa selama ini Tom berselingkuh dengan seseorang. Rachel segera menemui Anna saat Tom tidak ada di rumah untuk menjelaskan bahwa selama ini mereka berdua telah masuk dalam kebohongan-kebohongan Tom, bahwa sebenarnya Tom berselingkuh dan pada akhirnya membunuh Megan dan janin yang dikandungnya – anak hasil perselingkuhan mereka. Anna masih belum bisa percaya sepenuhnya.

Di tengah pembicaraan mereka, Tom ternyata telah kembali ke rumah. Kedua perempuan yang ketakutan itu terpaksa tetap berada di dalam rumah bersama Tom, yang pada akhirnya mengakui sendiri bahwa ia telah berselingkuh dengan Megan. Ia bercerita bahwa Megan yang memiliki trauma akibat kematian bayinya saat masih berusia sangat muda telah menuntut Tom untuk bertanggungjawab atas kehamilannya. Keberanian Megan menuntut Tom muncul saat ia mendapat saran dan dukungan dari terapisnya, Kamal, yang setelah pembicaraan itu mencium Megan sebagai bentuk dukungan seorang teman. Sebuah ciuman yang disalahtafsirkan oleh Rachel. Namun berbeda dengan keinginan Megan, Tom tidak mau hidup bersama Megan dan menyuruhnya menggugurkan saja kandungan itu. Megan yang sangat kecewa memaki Tom, mengancam akan membongkar perselingkuhannya. Untuk membungkamnya, Tom membunuh Megan.


Setelah pengakuan itu terjadi, Rachel berusaha kabur dari rumah itu dan meminta Anna untuk diam-diam menghubungi polisi. Namun, Tom berhasil mencegahnya dengan menyakiti Rachel secara fisik. Pada akhirnya Rachel berhasil mencapai kebun samping rumah, namun tertangkap oleh Tom dan untuk melindungi dirinya, Rachel meraih sebuah obeng dan menusukkannya ke leher Tom. Anna yang saat itu juga marah dan kecewa memperparah tusukan itu hingga menewaskan Tom. Polisi dan paramedis berdatangan kemudian setelah Anna menelepon. Anna membela Rachel bahwa ia melakukannya atas dasar melindungi diri; dan Rachel melindungi Anna dengan mengatakan bahwa Anna berusaha menghentikan pendarahan di leher Tom namun tidak berhasil menyelamatkan nyawanya. Kebohongan-kebohongan Tom selama ini terungkap dan kasus Megan terselesaikan. Setelah insiden itu, hidup Rachel membaik dan untuk pertama kalinya setelah keterpurukan sekian lama, ia mulai berpikir tentang menata kehidupannya kembali.

Admin
Yuda Iswanto
No Telp : 081515147161 (whatsap, sms, call)
E-mail : bikintugasku@gmail.com

Daftar Pustaka
Barthes. 2015. An Introduction to the Structuralist Analysis og Narrative. (Online). https://rosswolfe.files.wordpress.com/2015/04/roland-barthes-an-introduction-to-the-structuralist-analysis-of-narrative.pdf. Diakses tanggal 8 November 2016.
Eagleton. 2012. What is A Novel ?. (Online). http://www.blackwellpublishing.com/content/BPL_Images/Content_store/Sample_chapter/9781405117067/Eagleton_sample%20chapter_Then%20english%20novel.pdf. Diakses tanggal 8 November 2016.
Gita, S. 2012. Struktur Naratif dan Penokohan Tokoh Utama pada Novel Garuda Putig Karya Suparto Brata. (Online). http://eprints.uny.ac.id/8242/3/BAB%202-08205241004.pdf. Diakses tanggal 8 November 2016.
Hawkins, P. 2015. A Girl on the Train. New York: Penguin Group.
Malik, W. H., Zaib, S., dan Bughio, F. A. 2014. Theory into Practice: Application of Roland Barthes’ Five Codes on Bina Shah’s ‘The Optimist’. Academic Research International Vol 5 (5): 242-250.
Tyson, L. 2006. Critical Theory Today: A User Friendly Guide. New York: Routledge.

Posted By Yuda IswantoOktober 24, 2018